Selasa, 11 Oktober 2022

Benarkah Sabar Itu Ada Batasnya?

Penulis: Mega Octavia |

Kita pasti sering mendengar kalimat pada judul di atas. Bahkan lisan kita pun barangkali pernah mengatakannya. Kalimat ini biasanya keluar dari mulut seseorang yang ditimpa persoalan berat dan hampir-hampir menyerah.

Sadarkah kita bahwa sebetulnya kalimat tersebut keliru? Orang yang mengucapkan kalimat tersebut secara sadar berarti ia belum paham tentang dimensi sabar.

Pada hakikatnya sabar itu berada dalam tigankeadaan. Pertama, sabar dalam melakukan kebaikan dan ketaatan.

Sabar jenis ini merupakan perkara yang sulit. Betapa tidak, dalam hal ketaatan pun kita harus tetap bersabar. Padahal seringkali kita dihinggapi rasa malas untuk tetap taat menjalankan perintah Allah Ta'ala. Kadang pula muncul godaan dan gangguan agar kita tidak taat.

Andai sabar itu ada batasnya maka tidak akan ada manusia yang selalu teguh dalam meniti jalan ketaatan kepada Allah Ta'ala. Bayangkan jika ketaatan itu ada batasnya, maka Islam menjadi cacat karena tak akan ada manusia yang sanggup menjalaninya secara baik.

Kedua, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Kita perlu sabar jenis ini agar tetap teguh dan berdiri kokoh dalam menjalankan ketaataan sehingga tidak akan mudah terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan.

Ketiga, sabar dalam menerima takdir dan ketetapan yang telah Allah Ta'ala berikan. Nah, hal yang satu inilah yang sering kali dipungkiri oleh sebagian orang. Kebanyakan dari kita ketika tertimpa musibah akan mengeluh dan mulai menyalahkan takdir yang Allah berikan. Padalah dengan kita bersabar atas ujian yang Allah berikan maka Allah akan memberikan ganjaran sebagaimana kesabaran yang kita lakukan.

Jadi, sabar itu tak ada batasnya. Wallahu A'lam.

(Penulis adalah mahasiswa STID M Natsir, Jakarta)