Laman

Kamis, 21 Agustus 2025

Nabi Lebih Banyak Membina dengan Halaqah daripada Ceramah

Penulis: Ahmad Firdaus |

Pada masa awal Islam, Nabi saw. tidak langsung berdiri di mimbar lalu ceramah besar-besaran. Beliau menghimpun sahabat dalam kelompok kecil di rumah Arqam bin Abi Arqam. Di situlah Nabi membacakan wahyu, menanamkan iman, mengajarkan akhlak, bahkan menguji komitmen.


Sirah Ibnu Ishaq meriwayatkan, “Rasulullah berada di rumah Arqam bin Abi Arqam, di bukit Shafa, membina para sahabat secara sembunyi-sembunyi hingga jumlah mereka bertambah...”

Dari halaqah kecil inilah lahir Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Bilal, Ammar, Mus’ab bin Umair, dan sahabat-sahabat utama lainnya. Inilah bukti bahwa halaqah lebih dominan daripada ceramah umum.

Ceramah Ada, tapi Momentum Tertentu

Nabi ﷺ memang berkhutbah di Arafah (Haji Wada’), khutbah Jum’at, atau ketika ada peristiwa besar. Tapi ceramah Nabi jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding halaqah rutin.

“Bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang...” (QS. Al-Kahfi: 28). Ini jelas majelis kecil yang rutin (halaqah), bukan ceramah massal.

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhuma, mereka berdua berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

"Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir (mengingat) Allah, melainkan mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan sakinah (ketenangan), dan mereka disebut oleh Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya

Tradisi Pesantren Warisan Model Halaqah

Para ulama Indonesia menerjemahkan metode halaqah Rasulullah ini ke dalam bentuk pesantren. Pesantren bukan sekadar tempat mendengar ceramah. Di sana santri tinggal, belajar, berinteraksi, diawasi, bahkan dibina setiap hari.

Kiai seperti Nabi di Darul Arqam, mendidik dalam lingkaran kecil, menanamkan ilmu, iman, dan akhlak.

Santri seperti para sahabat, hidup bersama, mengikat diri dalam majelis, saling menasihati, membentuk ukhuwah.

KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menekankan, “Belajar itu tidak cukup hanya mendengar sekali dua kali, tapi harus dengan duduk bersama guru, mengulang, dan hidup dalam bimbingan.” Ini persis seperti halaqah tarbiyah Nabi ﷺ.

KH. Ahmad Dahlan, KH. Ahmad Sanusi, hingga ulama modern seperti KH. Abdullah Gymnastiar juga menekankan pentingnya pembinaan rutin dibanding hanya ceramah sesaat.

Halaqah vs Ceramah

Ceramah, sekali mendengar, kita akan mendapat ilmu. Halaqah, kita rutin mengkaji, terikat, dapat ilmu, iman, amal, dan akhlak.

Jadi, ceramah ibarat minum vitamin sekali saja: terasa segar sebentar, tapi cepat hilang.
Pesantren atau liqo’ ibarat program hidup sehat dengan dokter pribadi: terjaga, konsisten, hasilnya nyata.

Nabi ﷺ lebih banyak membina sahabat dengan halaqah tarbiyah daripada ceramah umum. Ulama Indonesia menerjemahkan metode itu ke dalam pesantren, sehingga lahir santri yang bukan hanya pandai, tapi juga berakhlak dan siap berjuang.

Maka, jangan puas hanya jadi pendengar ceramah. Jika ingin iman kuat, akhlak kokoh, dan amal istiqamah, ikatlah diri dalam liqo’, halaqah, atau pesantren. ***

(Penulis adalah aktivis Islam)