Laman

Jumat, 22 Agustus 2025

Rihlah dan Riyadhah Banyak Waktu, Ngaji Mendadak Sibuk

Penulis: Ahmad Firdaus |

Kita semua tahu, rihlah itu asyik. Pergi ke pantai, gunung, atau sekadar berkumpul sambil bakar ikan, suasananya bikin segar. Riyadhah juga seru — futsal, voli, badminton, atau sekadar jalan santai bareng kader, bawaannya fresh. Begitu diumumkan jadwalnya, daftar peserta langsung penuh. 


Tapi anehnya, giliran jadwal ngaji atau kajian pekanan diumumkan, reaksinya beda. Ada yang bilang “Wah, kayaknya tabrakan sama agenda keluarga”. Ada yang jawab singkat “ Nanti kita liat ya”. Dan, ada juga yang mendadak menghilang dari grup — entah sibuk betulan, entah sibuk-sibukan.

Padahal kalau mau jujur, waktunya ngaji sering lebih singkat dibanding rihlah dan riyadhah. Kalau rihlah bisa seharian penuh dan kita rela menempuh perjalanan 3 jam ke lokasi, ngaji di masjid dekat rumah cuma 1–2 jam.

Kenapa bisa begitu?

Pertama, nafsu lebih suka yang ringan dan menyenangkan. Rihlah dan riyadhah buat badan segar, tapi ngaji dianggap berat karena harus duduk, dengar, dan berpikir.

Kedua, kurang paham nilai ilmu. Kita lupa kalau rihlah dan riyadhah itu menyegarkan fisik dan ukhuwah, tapi ilmu yang didapat di majelis itu menguatkan iman dan menuntun hidup kita.

Ketiga, budaya ikut-ikutan. Kalau ramai ikut rihlah, kita semangat. Tapi kalau ngaji peserta sedikit, malah malas datang. Padahal justru kita bisa lebih dekat dengan ustadz dan lebih bebas bertanya.

Keempat, prioritas terbalik. Hiburan kita jadikan wajib, ilmu kita jadikan opsional.

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Coba bayangkan, demi rihlah kita rela capek, panas, bahkan keluar uang. Demi riyadhah kita rela bangun pagi-pagi atau pulang malam. Tapi demi ngaji, kita masih hitung-hitung mood dan waktu.

Rihlah itu penting, riyadhah itu sehat, tapi ngaji itu wajib. Jangan sampai nanti kita jadi generasi yang kuat fisiknya, solid pertemanannya, tapi lemah iman dan miskin ilmu.

Mulai sekarang, coba dibalik: Kalau ada jadwal ngaji, kita semangat duluan daftar. Kalau bisa hadir semua kegiatan, hadirkan semua. Kalau harus pilih, pilih yang paling besar manfaatnya untuk akhirat.

Sebab, rihlah cuma meninggalkan foto, riyadhah meninggalkan keringat, tapi ngaji meninggalkan cahaya di hati yang bisa menuntun kita sampai surga. ***


(Penulis adalah aktivis Muslim, tinggal di Bulukumba, Sulawesi Selatan)