Laman

Senin, 27 April 2026

Media Lebih Jaksa dari Jaksa

Penulis: Ahmadie Thaha (Cak AT)

Di sebuah negeri yang gemar menyebut dirinya demokratis, ada satu makhluk yang diam-diam berubah bentuk: media.


Dulu ia disebut pilar keempat demokrasi, kini kadang terasa seperti pagar pembatas — yang bukan melindungi publik, tapi justru membatasi sudut pandang publik.

Kasus Ibrahim Arief — Ibam — yang terseret dalam pusaran proyek Chromebook itu, tiba-tiba menjadi semacam cermin besar. Cermin yang memantulkan wajah media kita hari ini: buram, condong, dan kadang tampak seperti sedang ikut menghakimi sebelum hakim mengetuk palu. 

Ini bermula dari perkara pengadaan laptop pendidikan berskala besar, di mana seorang konsultan teknis — bukan pejabat, bukan pemegang anggaran — ikut duduk di kursi terdakwa, dituntut berat, meski fakta persidangan menyebut tak ada aliran dana kepadanya.

Data yang baru saja dirilis oleh Ismail Fahmi dari Drone Emprit bukan sekadar angka. Ia seperti hasil rontgen sosial: memperlihatkan tulang retak di tubuh ekosistem informasi kita.

Selama periode 23 Maret hingga 22 April 2026, Drone Emprit mencatat 11.426 mentions dan 13.140.377 interaksi mengenai Ibrahim Arief di enam kanal: Twitter/X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online.


Angka ini menunjukkan bahwa kasus ini bukan sekadar berita hukum biasa—ini adalah gelombang perhatian publik berskala nasional. Yang menarik dan penting untuk dipahami adalah polarisasi tajam antara media arus utama dan media sosial.

Media online menerbitkan berita yang positif 33,9%, yang negatif 46,9%, yang netral 19,2%. Media sosial: positif 85,5%, negatif 10,6%, netral 3,9%.

Di media arus utama, pemberitaan lebih banyak mengamplifikasi pernyataan resmi — tuntutan JPU, penetapan tersangka, angka kerugian negara dari BPKP — sehingga narasi yang sampai ke publik lebih banyak bersifat negatif terhadap Ibam.

Suara pembelaan, fakta-fakta yang meringankan, atau konteks industri teknologi relatif jarang mendapatkan ruang yang setara.

Namun di media sosial, cerita yang muncul sangat berbeda. Sentimen positif (pembelaan) mendominasi hingga 92,2% di Twitter/X, 94,7% di Instagram, dan 83,3% di TikTok.

Yang perlu dicatat: analisis bot menunjukkan skor rata-rata hanya 1,29 dari 5, dengan 80,98% akun berada pada kategori “sangat organik”.

Grafik tahun pembuatan akun juga memperlihatkan distribusi normal dari 2009 hingga 2025. Ini menunjukkan akun-akun itu bukan pola akun buatan yang biasanya terkonsentrasi pada periode tertentu.

Artinya, pembelaan terhadap Ibam di media sosial bukan hasil rekayasa buzzer. Ini suara organik publik, terutama dari komunitas teknologi dan profesional swasta.


Media online arus utama, dengan segala reputasi dan sejarahnya, justru lebih banyak menampilkan narasi negatif terhadap Ibam. Sementara media sosial—yang sering dituduh liar dan tak terkontrol—justru dipenuhi suara pembelaan yang organik, bukan hasil rekayasa buzzer.

Ironis? Tidak. Ini lebih seperti ironi yang sudah lama dipupuk, lalu sekarang berbuah lebat.

Pertanyaannya, mengapa media arus utama cenderung “lebih jaksa dari jaksa”? Pertanyaan ini seperti membuka pintu gudang tua yang penuh rahasia.

Di dalamnya, kita menemukan tumpukan realitas yang tidak romantis: tekanan bisnis, ketergantungan pada iklan, relasi kuasa, hingga _self-censorship_ yang halus tapi mematikan.

Seorang pengelola media bahkan sampai “curhat” — bahwa idealisme hari ini sudah seperti barang antik. Dipajang, dikagumi, tapi tidak dipakai. Media, yang dulunya hidup dari semangat publik, kini sering harus bertahan dari kontrak dan kerja sama.

Di titik ini, berita bukan lagi sekadar informasi. Ia menjadi produk. Dan seperti semua produk, ia mengikuti hukum pasar. Yang laku dijual adalah yang dramatis, yang tegas, yang “berani menghukum” dalam narasi.

Jaksa berbicara — itu berita. Tuntutan dibacakan — itu headline. Angka kerugian negara disebut — itu klik.

Tapi fakta yang meringankan? Konteks teknis? Kerumitan industri teknologi seperti ESOP dan _vesting_ — yang justru menjelaskan asal lonjakan harta Ibam — itu seperti catatan kaki di buku yang tidak pernah dibaca.

Sementara itu, publik —khususnya anak muda di sektor teknologi — menangkap pesan yang jauh lebih dalam. Mereka tidak hanya melihat Ibam sebagai individu. Mereka melihatnya sebagai simbol. Simbol dari risiko yang terlalu mahal untuk sekadar “mengabdi”.


Ketika seorang konsultan luar, tanpa kewenangan eksekusi, tanpa aliran dana, bisa terseret hingga ancaman belasan tahun penjara, maka logika sederhana bekerja: menjauh adalah pilihan rasional.

Di sinilah media memainkan peran yang tidak kecil. Ketika pemberitaan condong, ia tidak hanya membentuk opini. Ia membentuk rasa aman — atau ketakutan. Ia bisa membuat seseorang percaya bahwa negara ini masih layak diperjuangkan, atau justru terlalu berisiko untuk disentuh.

Dan ketika media lebih sering menjadi pengeras suara satu sisi, maka publik kehilangan satu hal paling penting: kepercayaan.

Padahal, kepercayaan itu seperti oksigen bagi inovasi. Tanpa itu, talenta akan memilih pergi. Bukan karena tidak cinta, tapi karena tidak ingin menjadi korban berikutnya.

Tagar seperti #kaburajadulu bukan sekadar lelucon digital. Ia adalah bentuk rasionalitas baru: bertahan hidup lebih penting daripada menjadi pahlawan yang tidak diingat.

Maka, kita sampai pada satu pertanyaan yang tidak nyaman: apakah media masih menjadi penjaga demokrasi, atau sudah menjadi bagian dari ekosistem kekuasaan yang lebih besar?

Jika jawabannya condong ke yang kedua, maka kita tidak sedang menghadapi krisis satu kasus. Kita sedang menghadapi krisis kepercayaan nasional.

Namun, seperti semua krisis, ini juga membawa pelajaran. Bahwa media tidak bisa lagi hanya bergantung pada model bisnis lama. Bahwa idealisme tidak bisa terus diparkir di ruang nostalgia.

Kita sadar, bahwa publik kini punya alternatif — media sosial, komunitas, jaringan profesional — yang bisa menyaingi bahkan mengoreksi narasi arus utama.

Dan yang paling penting: bahwa kebenaran, meski tertatih, selalu mencari jalannya sendiri.

Kasus Ibam mungkin akan selesai di ruang sidang. Tapi gema sosialnya akan jauh lebih panjang.

Ia akan hidup dalam keputusan-keputusan kecil: seorang engineer yang menolak proyek pemerintah, seorang diaspora yang memilih tetap di luar negeri, seorang akademisi yang memilih diam daripada memberi kajian.

Di situlah kita sadar: yang sedang dipertaruhkan bukan hanya satu orang. Tapi masa depan keberanian kolektif sebuah bangsa. **


(Penulis adalah kolumnis Ma'had Tadabbur al-Qur'an)