Laman

Kamis, 21 Mei 2026

Begadang di Atas Jam 10, Balas Dendam Setelah Shubuh

Penulis: Nurul Hikmah |

Kebiasaan tidur di atas jam 10.00 malam atau begadang kini menjadi fenomena yang lumrah terjadi di kalangan remaja maupun orang dewasa, tanpa disadari bahwa tindakan ini merusak ritme sirkadian alami tubuh. 

Foto ilustrasi: Pixabay.com

Berdasarkan tinjauan medis profesional seperti yang sering diulas dalam platform Halodoc, tubuh manusia dirancang untuk memproduksi hormon melatonin secara maksimal pada malam hari guna memperbaiki jaringan sel yang rusak dan memulihkan energi. 

Ketika seseorang sengaja melewatkan waktu krusial ini, sistem imunitas tubuh akan mengalami penurunan drastis karena produksi zat sitokin yang berfungsi melawan infeksi menjadi terhambat. Akibatnya, tubuh menjadi jauh lebih rentan terhadap serangan berbagai penyakit, mulai dari flu ringan hingga risiko penyakit kronis yang mengancam jiwa dalam jangka panjang.


Dampak buruk dari begadang tidak hanya berhenti pada penurunan daya tahan tubuh, melainkan juga istirahat yang berkualitas pada malam hari menyebabkan otak tidak sempat melakukan proses konsolidasi ingatan dan pembersihan racun-racun sisa metabolisme secara optimal. 

Pada keesokan harinya, pelaku kebiasaan ini akan merasakan penurunan konsentrasi yang tajam, kesulitan dalam berpikir jernih, serta melemahnya daya ingat jangka pendek. Secara emosional, kurang tidur di malam hari juga memicu lonjakan hormon kortisol atau hormon stres, yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah cemas, sensitif, dan mudah mengalami perubahan suasana hati (mood swing) yang mengganggu aktivitas sosial sehari-hari.

Kondisi ini sering kali memicu efek domino yang buruk, di mana rasa kantuk yang luar biasa akibat begadang semalaman berujung pada kebiasaan tidur kembali setelah melaksanakan salat subuh. Secara biologis, tidur di pagi hari sangat tidak disarankan karena dapat mengacaukan metabolisme internal tubuh yang seharusnya mulai aktif membakar energi dan kalori seiring terbitnya matahari. 

Ketika tubuh dipaksa untuk kembali tidur di saat jam biologisnya menuntut untuk terjaga, metabolisme akan melambat secara drastis. Penurunan laju metabolisme ini dalam jangka panjang menjadi salah satu pemicu utama terjadinya obesitas, resistensi insulin yang mengarah pada penyakit diabetes tipe 2, serta gangguan sistem pencernaan yang serius.

Selain mengganggu metabolisme, tidur pasca subuh secara klinis memicu fenomena yang dikenal dengan istilah sleep inertia atau kelembaman tidur. Kondisi ini ditandai dengan munculnya rasa pusing yang mengikat di kepala, tubuh yang terasa semakin lemas, serta perasaan linglung yang pekat saat terbangun nanti. 

Hal ini terjadi karena siklus tidur di pagi hari cenderung tidak sempurna dan langsung memotong fase tidur dalam (deep sleep), sehingga tubuh tidak mendapatkan kesegaran melainkan justru merasa kelelahan yang luar biasa. 

Akibatnya, motivasi untuk beraktivitas menjadi hilang dan waktu produktif di pagi hari yang kaya akan oksigen segar terbuang sia-sia, meninggalkan dampak lesu yang melekat sepanjang sisa hari.

Kombinasi antara kebiasaan tidur di atas jam 10.00 malam dan tidur kembali setelah salat subuh merupakan sebuah lingkaran setan yang merusak kualitas hidup secara keseluruhan. Kedua kebiasaan saling mengikat ini tidak hanya menghancurkan kesehatan fisik melalui penurunan imun dan perlambatan metabolisme, melainkan juga merusak kesehatan mental serta memangkas produktivitas harian. 

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mulai memperbaiki manajemen waktu, disiplin mematuhi jam biologis tubuh, dan menghindari tidur di pagi hari demi menjaga keseimbangan kesehatan serta mengembalikan kebugaran tubuh yang optimal. ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)