Laman

Rabu, 03 Juni 2026

Kisah Kompromi, dari Main Kartu Sampai Minta Komisi

Penulis: Ahmad Firdaus |

Tidak banyak orang yang  langsung terjatuh ke lubang yang dalam. Kebanyakan dimulai dari langkah-langkah kecil yang dianggap biasa.

Foto ilustrasi oleh Pixabay.com

Awalnya hanya ikut duduk melihat orang bermain domino. "Lumayan, sekadar teman ngobrol," ujarnya.

Lalu mulai ikut bermain. "Kan tidak pakai taruhan," jelasnya.

Kemudian mulai menghabiskan waktu berjam-jam. "Ah dari pada menganggur," pikirnya.

Sedikit demi sedikit, sesuatu yang dulu dianggap tidak pantas menjadi terasa biasa. Begitulah cara kompromi bekerja.


Setan tidak selalu mengajak manusia langsung kepada dosa besar. Ia cukup membuat seseorang merasa nyaman dengan pelanggaran kecil. Setelah itu, hati akan menyesuaikan diri.

Allah Ta'ala berfirman, "Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan." (Al-Baqarah [2]: 168)

Perhatikan, Allah Ta'ala tidak mengatakan, "Jangan mengikuti setan" saja, tetapi "Jangan mengikuti langkah-langkah setan". Karena setan bekerja bertahap.

Hari ini kompromi dengan yang syubhat. Besok kompromi dengan yang makruh. Lusa kompromi dengan yang haram. Akhirnya yang haram terasa biasa.

Begitu pula dalam urusan amanah dan jabatan. Awalnya hanya menerima bingkisan. Kemudian menerima "uang transport". Lalu menerima "uang terima kasih". Setelah itu mulai menunggu amplop. Tak lama kemudian, malah meminta komisi. Padahal dahulu ia juga marah ketika mendengar orang berbuat demikian.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Dosa-dosa kecil adalah kurir yang mengantarkan kepada dosa-dosa besar."

Kalimat ini sangat dalam. Jarang ada koruptor yang memulai kariernya dengan mencuri miliaran. Jarang ada perusak moral yang memulai langkahnya dengan kerusakan besar. Biasanya semuanya dimulai dari pelanggaran yang dianggap ringan. Karena itu para salaf sangat takut terhadap dosa kecil.

Sahabat Nabi ﷺ, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang akan menimpanya, sedangkan orang fajir melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya lalu diusir."

Hari ini banyak orang takut disebut keras, tetapi tidak takut kehilangan prinsip. Takut dianggap tidak gaul, tetapi tidak takut melanggar batas syariat. Takut kehilangan teman, tetapi tidak takut kehilangan keberkahan. Padahal kerusakan besar dalam sejarah sering dimulai dari kompromi kecil yang terus dibiarkan.

Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari syubhat maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Orang yang menjaga diri sejak awal mungkin terlihat ketat. Tetapi ia sedang membangun pagar sebelum jurang. Sedangkan orang yang terus berkompromi baru sadar ketika sudah berada di tepi jurang.

Maka jangan meremehkan penyimpangan kecil. Jangan berkata, "Cuma sekali." Jangan berkata, "Semua orang juga begitu." Jangan berkata, "Yang penting niatnya baik."

Karena sejarah kerusakan manusia hampir selalu dimulai dari kalimat-kalimat semacam itu. Dari domino yang dianggap hiburan. Dari syubhat yang dianggap biasa. Dari hadiah yang dianggap wajar. Dari komisi yang dianggap rezeki. Lalu perlahan-lahan hati kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Yang paling berbahaya bukan ketika seseorang berbuat salah. Tetapi ketika ia sudah mampu membenarkan kesalahannya.

Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap peka terhadap kebenaran dan tidak terbiasa berkompromi dengan kebatilan, sekecil apa pun bentuknya. *

(Penulis adalah Komisioner Baznas Kabupaten Bulukumba 2017-2022)