Penulis: Almasah Salsabila Munir |
Dalam kehidupan, manusia kerap dihadapkan pada realitas persaingan. Salah satunya, dalam kehidupan di kampus perguruan tinggi.
![]() |
| Ilustrasi Pixabay.com |
Tidak jarang pula kita dihadapkan dengan realitas bahwasanya kesempatan sering diberikan kepada orang yang itu-itu saja. Mereka tampil hampir di berbagai peran di kampus, sementara sebagian lainnya belum memperoleh ruang yang sama untuk mencoba juga.
Kondisi seperti ini dapat menimbulkan perasaan tertinggal, bahkan merasa dirinya tidak memiliki kelebihan yang dapat dibanggakan.
Fenomena tersebut sering kali menguatkan anggapan bahwa, “Pada akhirnya, hanya satu yang menang (in the end, only one wins).” Hal ini terlihat keberhasilan seperti sesuatu yang ekslusif, seolah hanya milik segelintir orang.
Akibatnya, mereka yang belum mendapatkan kesempatan kerap merasa sebagai pihak yang kalah. Padahal, perasaaan ini tidak sepenuhnya mencerminkan kebenaran yang utuh.
Dalam perspektif Islam, makna kemenangan tidak sesempit pencapaian yang tampak di dunia. Islam memandang keberhasilan dari niat, proses, kemudian ketakwaan seorang hamba. Seseorang yang sudah berusaha dengan kesungguhan, meskipun belum memperoleh kesempatan besar, tetap memiliki nilai di sisi Allah. Dengan demikian, “kalah” menurut standar manusia belum tentu adalah kegagalan dalam pandangan agama Islam.
Islam juga menekankan pentingnya ikhtiar. Ketiadaan kesempatan bukan berarti seorang hamba harus berhenti untuk menjalankan kesungguhannya, melainkan menjadi dorongan untuk terus mengembangkan diri dan mencari peluang lain. Setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat yang ikhlas dan lurus merupakan bagian dari ibadah dan memiliki nilai kebaikan tersendiri.
Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam al-Qur’an:
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai kaumku! Berbuatlah menurut keadaanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui (siapa yang akan memperoleh hasil yang baik).’” (Az-Zumar: 39)
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap individu memiliki jalan dan perannya masing-masing. Tugas kita sebagai hamba adalah terus berusaha dengan kesungguhan. Berupaya menjadi versi terbaik dari dirinya. Do the best we can be. Yang pasti diawali dengan niat yang lurus, maka setiap langkah yang ditempuh akan bernilai ibadah.
On the other hand, keberhasilan yang diraih oleh sebagian orang tidak seharusnya melahirkan kesombongan. Dalam Islam, keberhasilan adalah amanah yang harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk kebaikan bersama.
Oleh karenanya, konsep “the winner takes it all” tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kerendahan hati, kebermanfaatan, dan keadilan.
Pada akhirnya, ungkapan in the end, only one wins (hanya satu yang akan menang) dapat dimaknai dengan berbeda. Kemenangan sejati bukan tentang siapa yang paling sering diberi kesempatan, melainkan siapa yang paling bersungguh-sungguh dalam berproses dan bertakwa kepada Allah. Setiap individu memiliki jalan dan waktunya masing-masing.
Kesimpulannya, meskipun dunia sering menampilkan keberhasilan sebagai milik segelintir orang, namun Islam berbeda. Islam mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan keikhlasan adalah bagian dari kemenangan itu sendiri.
Bahkan, ketika seseorang merasa tertinggal, selama ia tetap berusaha dan bertawakkal, ia sedang berjalan menuju kemenangan yang hakiki.
“Opportunities don’t come the same for everyone, but effort and sincerity are always in your hands.
(kesempatan tidak datang sama untuk semua orang, tetapi usaha dan ketulusan selalu ada dalam kendalimu).” *
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)
