"Kamar yang gelap tidak memperlihatkan apakah ia bersih atau kotor. Begitu pula hati yang gelap tidak mampu membedakan mana yang halal, mana yang haram, bahkan tidak peka terhadap perkara syubhat."
Mawar adalah bunga yang sangat berharga. Tak semua orang dapat menyentuhnya sembarangan. Bunga yang bebalutkan keindahan namun mempunyai kekuatan, yakni durinya yang tajam. Allah menghiasinya dengan kelopak yang indah, namun juga menganugerahinya duri. Bukan untuk mengurangi keindahannya, melainkan untuk menjaganya.
Piala Dunia adalah ajang olah raga terbesar di dunia. Hukum asal olah raga dan menontonnya adalah mubah selama tidak mengandung perkara yang diharamkan dan tidak melalaikan kewajiban. Namun, bagi seorang muslim, pertanyaan terpenting bukanlah "bolehkah?", melainkan "apa yang menjadi prioritas hidup kita?"
Para ulama terdahulu tidak menginginkan seorang Muslim hanya pandai mengeja huruf-huruf al-Qur'an, tetapi tidak memahami bacaan yang akan ia baca dalam salat setiap hari.
Di antara hadits yang sering disebut para ulama adalah: "Barang siapa berpegang teguh kepada sunnahku ketika rusaknya umatku, maka baginya pahala seratus syahid."
“Aku terlalu banyak melakukan dosa, terlalu banyak berbuat maksiat. Aku malu kembali pada Tuhanku, rasanya orang sepertiku tidak pantas untuk bertaubat. Sebab sering kali bertaubat tapi aku kembali terjerumus dalam jurang maksiat. Aku malu ya Rabb.”
Tanggal 11 November 2024 menjadi saat yang tidak pernah hilang dari ingatanku. Hari di mana seseorang yang paling berharga dalam hidupku pulang ke pangkuan Sang Pencipta. Kepergian yang tanpa pamit dan aba-aba, seolah membawa sebagian dari diriku ikut luruh bersamanya.
Belakangan ini, ruang digital diramaikan oleh beredarnya video yang memperlihatkan tindakan mesra sesama jenis di lingkungan kampus. Peristiwa itu mengundang beragam respon dari masyarakat. Ada yang memandangnya sebagai urusan pribadi, ada pula yang menyorotnya dari sudut pandang moral dan agama.
Ada orang yang sudah lama ikut ngaji. Ceramah didengar, kajian rutin dihadiri, liqo tidak pernah absen. Buku agama banyak dibaca, istilah-istilah dakwah pun sudah akrab di telinga.
Lagi-lagi kita diingatkan oleh pertanyaan Allah dalam al-Qur'an surat At-Takwir ayat 26: “Fa aina tadzhabun?” yang berarti, “Ke mana kalian akan pergi?” Sebuah pertanyaan yang seharusnya direnungkan oleh setiap manusia.
Setiap ide yang terlintas di benak adalah anugerah yang datangnya tak terduga, seperti rintik hujan pertama di musim kemarau. Iman Al-Ghazali dalam kitab IhyaUlumuddin mengibaratkan hati seperti cermin. Jika cermin itu bersih, cahaya kebenaran Ilham atau ide akan terpantul ke dalamnya secara seketika atas izin Allah.
Pernah nggak sih kamu lagi cerita serius, tapi lawan bicaramu malah main HP atau langsung memotong pembicaraan dengan nasihat yang nggak kamu minta? Rasanya pasti kayak nggak dihargai, kan?
Ada fenomena yang tampak sederhana, namun jika direnungkan, sangat mengusik nurani. Sebagian umat begitu berhati-hati dalam hal-hal kecil, seperti bertanya hukum bermain domino—apakah boleh atau tidak, apakah termasuk judi atau sekadar hiburan. Diskusi panjang terjadi, perdebatan muncul, bahkan sampai mencari dalil dan pendapat ulama.
Pernah mendengar kisah seorang sahabat yang sangat dekat dengan baginda Nabi sallahu a’laihi wasallam?Beliau merelakan dirinya dipatok ular saat melindungi sahabatnya itu di dalam Gua Tsur. Dialah sahabat Abu Bakar a’laihi salam.
Seberapa sering kita menganggap perjalanan pulang sebagai sesuatu yang pasti, sesuatu yang akan selalu berakhir dengan selamat, tanpa pernah benar-benar kita pertanyakan? Pada 27 April 2026, keyakinan itu runtuh di Bekasi Timur, ketika KRL Commuter Line bertabrakan dengan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek.