Penulis: Ahmad Firdaus |
Dalam Al-Qur’an, Allah memberi peringatan keras kepada orang-orang yang mencampuradukkan antara yang hak dan batil. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 42)
Ayat ini bukan hanya teguran untuk ahli kitab terdahulu, tapi juga peringatan abadi bagi umat Islam agar tidak menyatukan kebenaran dengan kebatilan dalam satu nafas kehidupan. Sayangnya, di zaman ini, campur aduk seperti itu makin lazim—dan bahkan dianggap biasa.
Bayangkan seseorang menyajikan nasi ketam—hidangan mewah yang lezat—kemudian mencampurnya dengan kotoran sapi. Siapa yang mau memakannya?
Bahkan yang kelaparan pun akan menolak. Karena nilai makanan itu hilang, tercemar, dan menjijikkan. Beginilah hakikat amal yang tercampur antara kebaikan dan kemaksiatan.
Rajin Pengajian, Rajin Juga Main Domino
Kita temui banyak orang yang rutin menghadiri majelis ilmu. Duduk paling depan saat pengajian, rajin mencatat, bahkan sesekali menyanggah pendapat ustaz dengan mengutip ayat.
Namun sayangnya, selepas maghrib hingga tengah malam, ia juga dikenal rajin main domino di pos ronda. Kadang-kadang, disertai umpatan, rokok beruntun, bahkan taruhan kecil-kecilan.
Dari satu sisi ia menuntut ilmu agama, tapi di sisi lain ia ikut dalam permainan yang melalaikan, bahkan mendekati praktik judi.
Ini bukan lagi inkonsistensi kecil—tapi bentuk mencampurkan antara hak dan batil secara terang-terangan.
Jika orang awam melihatnya, apa yang terjadi? Masyarakat jadi bingung membedakan mana orang taat dan mana yang main-main dalam agama. Yang lebih parah, hal seperti ini menimbulkan fitnah terhadap dakwah itu sendiri.
Rajin Pengajian, Tapi Juga Langganan Karaoke
Ada juga yang rajin ke masjid, hafal surat-surat pendek, bahkan kadang diminta jadi imam. Tapi malam minggu, ia sudah siap dengan baju keren menuju tempat karaoke.
Dengan dalih “hiburan” atau “refreshing”, ia menyanyi lagu-lagu cinta, kadang sampai dini hari, di tempat yang bercampur antara lelaki dan perempuan, bahkan dengan suasana yang menjurus pada kemaksiatan.
Apakah ini sikap seorang penuntut ilmu? Bukankah ilmu itu seharusnya menjauhkan kita dari dosa? Mengapa justru ada yang menjadikan pengajian sebagai "penebus" dosa mingguan, lalu dengan santai kembali melakukan maksiat yang sama?
Agama Bukan Penyeimbang, Tapi Penyelamat
Sebagian orang hidup seolah-olah amal baik dan dosa bisa ditimbang-timbang: hari ini dosa, besok taubat. Sore maksiat, malam ikut pengajian. Seolah-olah agama cukup dijadikan “penyeimbang” hidup, bukan “penyelamat.”
Padahal Islam tidak pernah mengajarkan hidup seperti itu. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada perkara yang samar, yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barang siapa menjaga dirinya dari perkara yang samar, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau yang samar saja harus dijauhi, apalagi yang terang-terangan haram?
Mari Bersihkan Amal dari Campuran Batil
Kita tidak dituntut menjadi sempurna, tapi kita dituntut untuk jujur dalam bertakwa. Kalau kita benar-benar ingin menempuh jalan Allah, maka jalan itu harus kita lalui dengan bersih, lurus, dan penuh kejujuran niat.
Kita tidak bisa menyuap Allah dengan amal salih, lalu mengharapkan Dia menutup mata atas kemaksiatan kita. Amal yang baik tetap harus dikerjakan, tapi maksiat yang menyertainya harus segera dihentikan.
Sebagaimana kita tak akan pernah mau makan nasi lezat yang tercampur najis, maka Allah pun tidak akan menerima amal yang tercampur dengan dosa secara sengaja.
Dakwah Adalah Keteladanan
Kita semua, terutama yang rajin pengajian, harus sadar bahwa ilmu itu tidak hanya untuk diketahui, tapi untuk diamalkan. Dan amal itu bukan untuk pamer, tapi untuk mendekat kepada Allah dengan kejujuran hati.
Jangan mencampur aduk dakwah dengan dunia. Jangan jadikan masjid tempat menumpuk pahala, lalu jadikan tempat karaoke sebagai tempat pelampiasan nafsu. Itu bukan keseimbangan hidup—itu penyimpangan.
Mari kita perbaiki niat. Bersihkan jalan dakwah. Jadilah hamba Allah yang tidak menjilat kebenaran dengan kemaksiatan, yang tidak menebus dosa dengan ilmu yang tidak diamalkan.
Semoga Allah menjaga kita dari hati yang munafik dan amal yang tercemar. ***
(Penulis adalah aktivis Muslim, tinggal di Bulukumba, Sulawesi Selatan)