Minggu, 12 April 2026

Antara Ego Senior dan Kesederhanaan yang Disalahpahami

Penulis: Ahmad Firdaus |

Berdakwah di tengah organisasi atau komunitas perjuangan bukan sekadar menyampaikan kebenaran. Ia adalah perjumpaan antara ilmu, adab, dan realitas manusia yang penuh dengan sejarah, jasa, serta rasa memiliki.

Di ruang seperti ini, seorang dai seringkali tidak hanya berbicara kepada individu, tetapi kepada ego, pengalaman, dan zona nyaman yang telah lama terbentuk. Dan, di situlah ujian itu menjadi nyata.

Antara Jasa dan Ujian Hati

Para senior adalah pilar. Mereka yang merintis dan berkorban. Namun, dalam Islam, kemuliaan tidak hanya diukur dari siapa yang lebih dahulu, tetapi siapa yang lebih terbuka terhadap kebenaran.

Dalam Al-Qur’an telah diingatkan, "Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami." (Al-Baqarah [2]: 170)

Dalam tradisi ulama, sikap ini telah lama dikritik. Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menulis:

"الْجَاهِلُ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ عَالِمٌ، فَلَا يَتَعَلَّمُ أَبَدًا"

“Orang yang bodoh itu merasa dirinya sudah berilmu, sehingga ia tidak pernah mau belajar.”


Kalimat ini terasa keras, namun justru menjadi cermin bagi siapa saja—termasuk mereka yang telah lama berada dalam perjuangan.

 Antara Hikmah dan Kemalasan

Ungkapan “tidak usah berlebihan dalam agama” sering terdengar bijak. Namun, dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, disebutkan:

"مَنْ ظَنَّ أَنَّهُ اسْتَغْنَى عَنِ الْعِلْمِ فَقَدْ جَهِلَ"

“Barang siapa merasa tidak lagi membutuhkan ilmu, maka sungguh ia telah jatuh dalam kebodohan.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa berhenti belajar bukanlah kesederhanaan, tetapi awal dari kemunduran.

Kesederhanaan dalam Islam bukan berarti berhenti bertumbuh, melainkan terus berjalan dengan istiqamah, meski sedikit demi sedikit.


Menasihati dengan Adab, Bukan Menghakimi

Di tengah organisasi, nasihat seringkali sensitif. Salah cara sedikit saja, bisa melukai. Dalam kitab Adab al-‘Alim wal Muta’allim, KH Hasyim Asy'ari menegaskan:

"مَنْ نَصَحَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ زَانَهُ، وَمَنْ نَصَحَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ شَانَهُ"

“Barang siapa menasihati saudaranya secara diam-diam, maka ia telah menghiasinya. Dan barang siapa menasihatinya secara terang-terangan, maka ia telah mempermalukannya.”

Ini bukan larangan menyampaikan kebenaran, tetapi pelajaran tentang cara menjaga hati.

Dalam organisasi, seringkali bukan isi nasihat yang ditolak, tetapi cara penyampaiannya yang melukai.



Kunci Ilmu dan Perubahan

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali kembali mengingatkan:

"كُلَّمَا ازْدَادَ الْعِلْمُ ازْدَادَ التَّوَاضُعُ"

“Semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula kerendahan hatinya.”

Ini menjadi ukuran penting. Jika pengalaman bertambah tetapi hati semakin keras, maka ada yang perlu diluruskan. Dalam konteks organisasi: Senior yang benar adalah yang semakin bijak, sedang anggota lama yang matang adalah yang semakin terbuka, dan penuntut ilmu sejati adalah yang tidak pernah merasa selesai.

Menjaga Kebenaran, Merawat Persaudaraan

Dakwah di organisasi bukan hanya soal benar dan salah, tetapi bagaimana menjaga keduanya tetap berjalan bersama: kebenaran dan persaudaraan.

Dalam banyak kasus, perubahan tidak terjadi karena kurangnya dalil, tetapi karena kurangnya kesabaran dan adab dalam menyampaikan.

Maka seorang dai harus belajar bagaimana ia bisa "tegas tanpa kasar, lembut tanpa lemah, dan sabar tanpa menyerah."

Belajar Sepanjang Hayat

Dalam kitab-kitab ulama, satu pelajaran selalu berulang: bahwa manusia tidak pernah selesai dalam belajar, baik senior maupun junior, lama atau baru.

Organisasi yang sehat bukan yang tanpa perbedaan, tetapi yang mampu mengelola perbedaan dengan ilmu dan adab.

Dan, dakwah yang berhasil bukan yang langsung mengubah semua orang, tetapi yang terus menjaga cahaya kebenaran tetap menyala—meski perlahan. Karena pada akhirnya, bukan hanya organisasi yang sedang diperbaiki, tetapi juga hati kita masing-masing.

(Penulis adalah Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)