Penulis: Ahmad Firdaus |
Zona nyaman itu tidak selalu salah. Ia memberi rasa aman, stabil, dan tenang. Namun ketika zona nyaman berubah menjadi alasan untuk tidak bertumbuh, di situlah ia menjadi jebakan.
![]() |
| Ilustrasi oleh Pixabay.com |
Mayoritas manusia cenderung memilih hidup “biasa-biasa saja”. Tidak terlalu buruk, tapi juga tidak istimewa. Tidak melanggar terang-terangan, tapi juga tidak berjuang sungguh-sungguh.
Dalam istilah al-Qur’an, bukan golongan dzalimun li nafsih, tetapi juga belum sampai derajat sābiq bil khairāt (yang berlomba dalam kebaikan) sebagaimana disebut dalam surat Fathir ayat 32.
Umat yang Stagnan
Lihat realitas umat hari ini. Shalat? Ya, sekedar gugurkan kewajiban. Mengaji? Jika sempat, sisa waktu. Dakwah? Nanti kalau sudah tua. Ilmu? Cukup yang penting bisa cari makan.
BACA JUGA: Meneropong Dinamika Hubungan Iran-AS-Israel
Padahal Allah memerintahkan, “Fastabiqul khairāt” – berlomba-lombalah dalam kebaikan (Al-Baqarah: 148). Kata “berlomba” menunjukkan gerak, akselerasi, kompetisi menuju kualitas terbaik. Tapi, yang terjadi sering justru sebaliknya, asal jalan, asal selamat, asal tidak ditegur.
Kenapa Zona Nyaman Disukai?
Alasannya bisa karena takut dicibir karena orang yang berubah lebih baik sering dianggap sok alim. Bisa juga karena takut kehilangan relasi karena lingkaran pergaulan bisa menjauh. Atau, takut gagal. Bukankah lebih aman tidak mencoba daripada gagal?
Ada pula yang sudah merasa cukup. padahal iman itu naik turun. Bahkan dalam sejarah, banyak Nabi ditolak bukan karena ajarannya salah, tetapi karena mengganggu kenyamanan sosial. Kaum Quraisy menolak dakwah Muhammad ﷺ bukan karena tidak paham, tetapi karena perubahan mengancam status quo mereka.
Bahaya Biasa-Biasa Saja
Masalahnya, dalam agama ini tidak ada netralitas total. Diam dari kebaikan bisa berarti kehilangan peluang pahala. Terbiasa dengan standar rendah akan membuat hati tumpul.
Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati yang tidak dilatih dengan mujahadah (kesungguhan) akan cenderung pada kelalaian. Zona nyaman memperlebar kelalaian itu.
Butuh Pelopor, Bukan Penonton
Dalam sejarah Islam, perubahan besar lahir dari orang-orang yang keluar dari kenyamanan. Umar bin Khattab tidak menjadi pemimpin besar karena ia biasa-biasa saja. Ia keras pada dirinya sebelum keras pada orang lain.
Hari ini, umat lebih banyak menjadi penonton dari pada pelaku. Lebih banyak menjadi pengamat dari pada penggerak. Kritik banyak, kontribusi minim.
Ini menjadi bahan perenungan untuk kita. Apakah kita ingin menjadi sekadar selamat, atau ingin menjadi bagian dari kebangkitan?
Zona nyaman boleh dimiliki dalam urusan dunia, tapi tidak dalam urusan iman dan dakwah. Karena iman itu hidup jika ditantang, dan mati jika dimanjakan.
Mungkin inilah sebabnya mengapa banyak masjid penuh saat Ramadhan, tapi sepi saat Subuh. Banyak yang ingin suasana religius, tapi sedikit yang ingin komitmen jangka panjang. Zona nyaman menjadikan kita umat yang biasa. Keluar darinya melahirkan pejuang.
Pertanyaannya: Kita ingin dikenal sebagai generasi penikmat kenyamanan, atau generasi pembuat perubahan?
(Penulis adalah pimpinan BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)
