Selasa, 10 Februari 2026

Dakwah Maksiat Lebih Gencar daripada Dakwah Kebaikan

Penulis: Ahmad Firdaus |

Maraknya maksiat di tengah umat Islam hari ini bukan sekadar persoalan lemahnya iman individu. Ia adalah indikator telak bahwa dakwah maksiat jauh lebih gencar, masif, dan sistematis dibanding dakwah kebaikan.


Maksiat tidak lagi bergerak sembunyi-sembunyi. Ia tampil percaya diri, dipertontonkan, bahkan dinormalisasi. Yang dulu memalukan kini dibanggakan. Yang dulu dosa kini dikemas sebagai kebebasan dan pilihan hidup. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam.

Sementara itu, dakwah justru semakin defensif. Takut menyinggung, takut dicap intoleran, takut kehilangan audiens. Akibatnya, amar ma’ruf hanya hidup di mimbar, dan nahi mungkar mati di ruang publik.

Padahal Islam bukan hanya agama ajakan kepada kebaikan, tetapi juga agama pencegahan terhadap keburukan. Ketika fungsi nahi mungkar dilemahkan, maka maksiat otomatis mendapat ruang tumbuh yang luas.

Hari ini, maksiat berdakwah dengan sangat efektif. Ia didukung oleh algoritma media sosial, industri hiburan, kekuatan modal, dan legitimasi sosial. Ia hadir dua puluh empat jam, masuk ke gawai, rumah, bahkan kamar umat Islam sendiri. Tanpa sensor moral. Tanpa rasa malu.

Sebaliknya, dakwah kebaikan justru dibatasi oleh rasa sungkan yang berlebihan. Menegur maksiat dianggap tidak beradab, sementara mempertontonkan maksiat dianggap ekspresi diri. Inilah paradoks sosial yang berbahaya: kebenaran dituntut santun, kemungkaran dibiarkan brutal.

Lebih parah lagi, sebagian umat justru sibuk mencari dalil pembenar bagi kemaksiatan, bukan dalil pencegah. Agama direduksi menjadi pembenar selera, bukan pengarah perilaku. Dalam kondisi seperti ini, maksiat tidak perlu bersembunyi karena tidak ada yang menakutinya.

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kemungkaran akan berujung pada azab kolektif. Diamnya orang baik bukanlah netralitas, melainkan kontribusi terhadap kerusakan.

Maka, persoalan umat hari ini bukan kekurangan masjid, bukan pula kekurangan ustaz. Persoalan utamanya adalah hilangnya keberanian moral untuk mengatakan: ini salah.

Selama dakwah terus dipaksa lembut tanpa arah, dan nahi mungkar terus dituduh keras tanpa makna, selama itu pula maksiat akan terus memenangkan ruang publik. Dan kekalahan ini bukan kekalahan simbolik, melainkan kekalahan peradaban.

Opini ini tidak bertujuan memaki pelaku maksiat, melainkan menggugah umat agar sadar: jika maksiat terus dibiarkan berdakwah tanpa perlawanan, maka diamnya kita adalah bentuk kekalahan yang disengaja. ***

(Penulis adalah aktivis Islam, tinggal di Bulukumba, Sulawesi Selatan)