Penulis: Ahmad Firdaus |
Ada orang yang sudah lama ikut ngaji. Ceramah didengar, kajian rutin dihadiri, liqo tidak pernah absen. Buku agama banyak dibaca, istilah-istilah dakwah pun sudah akrab di telinga.
Tapi anehnya, agama belum juga jadi beban di hati. Kalau ada urusan agama, rasanya biasa saja. Kalau ada kemungkaran, tidak terusik. Kalau umat sedang diuji, tidak merasa punya tanggung jawab. Kalau ada panggilan dakwah, merasa cukup dengan hadir di majelis. Seolah agama hanya urusan duduk, dengar, pulang.
Padahal ngaji bukan untuk menambah daftar kehadiran. Bukan juga supaya dianggap “anak kajian”. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Ngaji itu harusnya membuat hati hidup, pikiran terbuka, dan jiwa bergerak.
Allah berfirman, “Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan ilmu yang nyata.” (Yusuf: 108)
Perhatikan ayat di atas. Bukan “aku saja”, tapi “aku dan orang-orang yang mengikutiku.” Artinya, pengikut Nabi bukan cuma pendengar, bukan cuma pencatat kajian, bukan cuma penikmat ceramah. Tapi orang yang ikut membawa risalah ini sesuai kemampuannya.
Ilmu yang Hanya Lewat di Telinga
Ada orang ngaji bertahun-tahun, tapi ilmu hanya mampir di telinga. Ia tahu banyak, tapi tak tergerak. Ia paham istilah, tapi tak mau berkorban. Ia rajin hadir, tapi tak ada perubahan.
Imam Ibn al-Qayyim pernah mengingatkan, “Ilmu itu bukan banyaknya riwayat, tapi cahaya yang Allah letakkan di hati.”
Karena ilmu yang benar pasti punya efek, yakni membuat hati takut kepada Allah, amal bertambah, akhlak membaik, dan membuat seseorang merasa punya tanggung jawab terhadap agama.
Kalau bertahun-tahun ngaji tapi hati masih dingin terhadap perjuangan agama, maka ada yang perlu diperiksa. Jangan-jangan yang hadir hanya badan, tapi hati tidak ikut belajar.
Sekadar Gugur Kewajiban
Ini yang berbahaya. Datang ke kajian supaya aman dari teguran. Ikut liqo supaya dianggap aktif. Duduk di majelis supaya tidak dicap malas.
Tapi setelah itu? Tak ada perubahan pada dirinya. Tak ada semangat, tak ada kontribusi, tak ada pengorbanan. Padahal, agama ini tidak tegak hanya dengan orang yang hadir, tapi dengan orang yang sadar dan bergerak.
BACA JUGA: Antara Kurban dan Korban
Hasan al-Banna pernah menegaskan, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan.”
Artinya, ilmu bukan untuk diparkir di kepala. Ilmu harus turun menjadi amal, akhlak, dakwah, kepedulian, dan pengorbanan.
Sahabat Tidak Belajar untuk Jadi Penonton
Para sahabat belajar ayat bukan untuk sekadar tahu. Mereka belajar, lalu berubah. Mereka paham, lalu bergerak. Mereka mendengar, lalu berkorban. Karena mereka tahu, agama bukan tontonan.
Allah Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka…” (Al-Anfal: 2). Jadi, bukan hanya telinganya yang mendengar, hatinya juga bergerak.
Muhasabah
Bisa jadi kita sudah lama ikut ngaji, tapi agama belum jadi beban di hati. Kita masih sibuk dengan diri sendiri. Kita masih mudah mencari alasan, merasa cukup dengan hadir, mengira duduk di majelis sudah otomatis berarti berjuang. Padahal belum tentu. Karena yang Allah nilai bukan lamanya ikut kajian, tapi sejauh mana ilmu itu mengubah hidup.
Jangan sampai bertahun-tahun ikut ngaji, tapi ketika agama butuh pembela, kita diam. Ketika dakwah butuh tenaga, kita menghindar. Ketika umat butuh kepedulian, kita sibuk dengan urusan sendiri.
Hadir di kajian tidak otomatis berarti sadar. Banyak mendengar tidak otomatis berarti paham. Aktif di liqo tidak otomatis berarti siap berjuang.
Sebab, ada orang yang sudah lama dekat dengan majelis, tapi ternyata agamanya hanya berhenti di telinga, tidak pernah turun ke hati, apalagi menggerakkan kaki. ***
(Penulis adalah komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)
