Sabtu, 08 Agustus 2026

Hangat di Tengah Keterbatasan: Kisar dari Aceh Tamiang

Penulis: Bunga Sri Elpika |

Tanggal 23 Maret 2026 menjadi momen yang begitu membekas bagi kami, tepat saat kepulangan dari titik tugas Kafilah Dakwah Ramadan STID M Natsir yang berlokasi di Aceh Tamiang, tepatnya di Desa Sukajadi. 

Meninggalkan tempat pengabdian tersebut terasa sangat berat. Tangisan anak-anak serta harapan tulus yang mereka titipkan kepada kami membuat langkah terasa tertahan, seakan hati belum siap untuk berpisah.

Aceh Tamiang mungkin tidak lagi dikenal sebagai daerah yang indah seperti dahulu. Kondisi lingkungan yang kami temui di awal kedatangan jauh dari ekspektasi. Bahkan, kami sempat melontarkan berbagai keluhan karena suasana yang terasa gersang dan seperti “kota mati”. 

Udara segar pun menjadi sesuatu yang jarang dirasakan oleh masyarakat setempat. Hal itu sempat membuat kami membandingkan diri dengan peserta kafilah lain yang mungkin menikmati lingkungan yang lebih nyaman.

Namun, seiring berjalannya waktu, semua pandangan itu perlahan berubah. Kehangatan warga serta sambutan tulus dari anak-anak yang menganggap kami sebagai keluarga sendiri menghadirkan rasa haru yang mendalam. Semangat mereka dalam menjalani hari, keterbatasan yang tidak menghalangi keceriaan, serta ketulusan dalam menerima kehadiran kami menjadi pelajaran berharga.

Kami pun menyadari bahwa kehadiran kami di sana, meskipun sederhana, membawa arti bagi mereka. Rasa syukur dan terima kasih terus kami panjatkan karena diberi kesempatan untuk berbagi, membantu, dan menjadi bagian dari kehidupan mereka, walau hanya dalam waktu singkat.

Pengalaman ini mengajarkan kami banyak hal: tentang kesabaran, keikhlasan, dan arti menjadi manusia yang kuat. Aceh Tamiang mungkin bukan lagi tempat yang indah secara fisik, tetapi kehangatan hati masyarakatnya menjadikannya begitu berkesan dan sulit untuk dilupakan. ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)