Penulis: Rahma Rahayu |
Kami datang ke tanah Sulawesi Tenggara ini bukan untuk mendikte atau menggurui dari atas mimbar. Kami memilih duduk dengan mereka, menggali hambatan yang mungkin muncul dalam mengelola agenda MTQ.
Perlahan, arahan demi arahan kami salurkan dengan harapan agar para pemuda Ulu Wolo ini memiliki mentalitas yang lebih tangguh, teliti, dan profesional.
Melawan "Umpatan Tongkrongan"
Mendampingi remaja remaja di daerah Ulu Wolo ini memiliki tantangannya sendiri. Mereka sebenarnya memiliki potensi pergaulan yang sangat baik, asalkan berada dalam lingkungan yang positif.
Namun, kebiasaan yang sudah mendarah daging tidak bisa dikikis dalam semalam. Sering kami temui kebiasaan lisan mereka yang masih sering diwarnai kata-kata kasar atau umpatan khas tongkrongan.
Suatu hari, dalam obrolan santai setelah rapat acara Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ), salah satu remaja tidak sengaja mengeluarkan umpatan kasar.
Seketika suasana menjadi hening. Mereka saling menatap dengan cemas. Remaja tersebut tertegun, wajahnya pucat yang diselimuti rasa bersalah karena "keceplosan" di hadapan kami. Bagi mereka, mengumpat di depan kami adalah sebuah kesalahan fatal.
Melihat kepanikan itu, kami tidak marah atau menghakimi. Kami justru tersenyum, merangkulnya dan mengingatkan mereka untuk membiasakan mengucapkan kalimat thoyyibah setiap kali khilaf.
"Astagafirullah..." ucap salah satu remaja malam itu dengan terbata-bata.
Pengucapannya memang belum sempurna. Huruf ghoin masih lebur menjadi huruf 'g' karena lidah mereka sudah terbiasa dengan dialek lokal dan kebiasaan lama. Bagi mereka, itu bukan sekadar salah ucap, melainkan sebuah pola tutur kata yang sudah mendarah daging.
Seketika suasana menjadi hening. Mereka saling menatap dengan cemas. Remaja tersebut tertegun, wajahnya pucat yang diselimuti rasa bersalah karena "keceplosan" di hadapan kami. Bagi mereka, mengumpat di depan kami adalah sebuah kesalahan fatal.
Melihat kepanikan itu, kami tidak marah atau menghakimi. Kami justru tersenyum, merangkulnya dan mengingatkan mereka untuk membiasakan mengucapkan kalimat thoyyibah setiap kali khilaf.
"Astagafirullah..." ucap salah satu remaja malam itu dengan terbata-bata.
Pengucapannya memang belum sempurna. Huruf ghoin masih lebur menjadi huruf 'g' karena lidah mereka sudah terbiasa dengan dialek lokal dan kebiasaan lama. Bagi mereka, itu bukan sekadar salah ucap, melainkan sebuah pola tutur kata yang sudah mendarah daging.
Kami tidak lelah membenarkannya secara perlahan. Setiap kali kata kasar hampir lolos dari bibir mereka, kami menuntun mereka untuk mengingat Allah. Proses koreksi yang dilakukan tanpa rasa menghakimi ini perlahan tapi pasti mulai membuahkan hasil. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)

