Penulis: Rima Siti Rohmah |
Seringkali kita berpikir bahwa kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kadang rasanya membuat dada sesak karena ekspetasi begitu tinggi tapi realitanya sangat berbanding terbalik.
Ketahuilah, di balik kegagalan yang kita alami, justru membuat kita kuat. Jika kegagalan itu sering terjadi, kita pun akan naik level. Artinya, semakin banyak kegagalan yang datang bukan menjadikan kita lemah, tapi justru semakin kuat, karena kita sudah terbiasa akan kegagalan tersebut.
Sejatinya kita sebagai manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, tidak dapat menentukan hasil. Tapi jangan karena hasil itu takdir kita tidak memaksimalkan usaha kita, justru takdir itu ada yang bisa diubah dan ada yang tidak.
Contoh yang bisa diubah adalah ketika seseorang tidak pintar namun ingin menjadi juara kelas. Dia belajar sunguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakan tugas. Tentu saja dia akan menjadi orang yang pintar.
Sedangkan takdir yang tidak bisa diubah adalah ketika kita memilih dari rahim siapa kita dilahirkan, dari rahim seorang yang kaya raya atau justru kekurangan. Itulah takdir yang tidak biaa di ubah karena sudah ketetapan Allah.
Beda lagi dengan sesuatu yang masih bisa kita usahakan apa lagi ditambah dengan kita bepasrah pada allah menyerahkan semua urusan kita pada allah, arti berpasrahkan di sini adalah sudah berusaha semaksimal mungkin dan ditutup dengan doa kepada allah bahwasannya takdirnya lah yang terbaik.
Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an surat Al- Baqarah [2] ayat 216:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
Sungguh ayat ini mengingatkan kepada kita bahwasannya menurut kita baik belum tentu menurut allah baik, dan menjelaskan kepada kita tentang kebasaran allah dan kecilnya kita sebagai manusai karena hanya allahlah yang tau mana yang lebih baik untuk kita. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)