Penulis: Rahma Rahayu |
Pernahkah kita merasa ada sesuatu yang kosong di sudut hati kita? Bukan karena patah hati oleh manusia, melainkan perasaan "hilang arah" di hadapan Sang Pencipta.
Kita sering kali merasa terlalu kotor untuk kembali, terlalu berantakan untuk bersujud, dan terlalu jauh untuk sekadar berbisik, "Ya Allah, aku lelah."
Sering kali kita merasa malu. Kita sadar telah bermaksiat, kita tahu kita telah melampaui batas. Namun, bayangkan ini: Allah tidak seperti manusia yang menutup pintu saat dikecewakan.
Seberapa pun berantakannya keadaanmu saat ini, Allah tetap menerima curhatanmu. Allah tetap membuka pintu ampunan seluas-luasnya.
Dalam sebuah Hadits Arbain no. 42, Hadits Qudsi, Allah berfirman, "Hai anak Adam, sesungguhnya selagi engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni dosa yang ada padamu dan aku tidak peduli. Hai anak Adam, seandainya dosa-dosamu setinggi langit (begitu banyak), kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni." (Riwayat Tirmidzi).
Namun, kita juga harus waspada. Jangan sampai rasa lelah ini hilang bukan karena kita kembali, tapi karena kita "diabaikan".
Berhati-hatilah dengan Istidraj—ketika maksiat jalan selalu, tapi hidup terasa mulus. Itu adalah cara paling halus Allah melepas hamba-Nya. Maka, rasa lelah dan gelisah yang kamu rasakan saat ini sebenarnya adalah cara Allah memanggilmu pulang. Dia tidak ingin kamu tersesat lebih jauh.
Ada sebuah janji yang nyata: Jika kita menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, maka dunia yang akan "mengejar" kita. Sesuai dengan pesan Rasulullah ﷺ:
"Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina." (Riwayat Tirmidzi).
Jangan pernah merasa sendirian. Segala rasa lelah, kegagalan, dan kesedihan yang kamu alami saat ini adalah bagian dari skenario terbaik yang Allah susun untuk membawamu kembali pulang. Allah tahu kapan kamu butuh diingatkan, dan Allah tahu kapan kamu butuh dikuatkan. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)