Pelaksanaan ujian akhir Kelas Kepakaran Kristologi Akhwat STID Mohammad Natsir tahun 2026 menghadirkan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika umumnya ujian dilaksanakan melalui tes tertulis, kali ini mahasiswi Angkatan Pertama Kelas Kepakaran Kristologi Akhwat mengikuti ujian dalam bentuk presentasi ilmiah di hadapan mahasiswi dari berbagai semester dan program studi di STID Mohammad Natsir.
Model evaluasi ini menjadi sebuah inovasi yang tidak hanya mengukur pemahaman peserta, tetapi juga melatih kemampuan mereka dalam menyampaikan materi dakwah secara langsung kepada audiens.
Kelas Kepakaran Kristologi merupakan salah satu program pengembangan kompetensi yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam mengenai ilmu Kristologi sebagai bekal dalam aktivitas dakwah. Program ini bertujuan memberikan dukungan dan fasilitas kepada mahasiswa yang memiliki minat serta potensi di bidang Kristologi, mempersiapkan kader da'i yang tangguh dan memiliki kemampuan berdialog secara ilmiah, serta melanjutkan estafet keilmuan Kristologi dari para pakar dan pengajar kepada generasi penerus.
Pada awalnya, program kepakaran ini hanya diselenggarakan di STID Mohammad Natsir Kampus Ikhwan yang berlokasi di Tambun, Bekasi. Memasuki tahun 2026, program tersebut mulai dibuka di Kampus Akhwat dengan menerima Angkatan Pertama yang terdiri atas 11 mahasiswi dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta Pengembangan Masyarakat Islam (PMI).
Ujian akhir dilaksanakan selama tiga hari, yaitu pada 21–23 Juli 2026. Berbeda dengan pola ujian konvensional, setiap kelompok yang terdiri atas dua hingga tiga mahasiswi melakukan presentasi di lima kelas yang berasal dari berbagai semester dan program studi.
Setiap sesi berlangsung selama kurang lebih 60 menit dengan menggunakan media presentasi (PowerPoint), dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama audiens. Materi yang dipresentasikan mencakup berbagai tema dalam kajian Kristologi yang telah dipelajari selama mengikuti program kepakaran.
Model ujian ini dirancang sebagai bentuk evaluasi praktik yang mengintegrasikan penguasaan materi, kemampuan komunikasi, serta keterampilan menyampaikan dakwah secara ilmiah. Melalui presentasi tersebut, peserta tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menjelaskan materi secara sistematis, menjawab berbagai pertanyaan, serta berdialog dengan baik di hadapan audiens.
Lebih dari sekadar mengukur tingkat penguasaan materi, pelaksanaan ujian ini juga bertujuan memperluas wawasan mahasiswi lain yang belum mengikuti Kelas Kepakaran Kristologi. Dengan demikian, materi yang telah dipelajari oleh peserta dapat dibagikan kepada sivitas akademika yang lebih luas sebagai bagian dari proses edukasi dan penguatan bekal dakwah.
Hal ini sejalan dengan hakikat dakwah yang tidak hanya ditujukan kepada sesama Muslim, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat yang berbeda keyakinan dengan tetap mengedepankan hikmah, etika, dan dialog yang baik.
Pelaksanaan kegiatan ini memperoleh respons yang sangat positif dari para mahasiswi yang mengikuti presentasi. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Sebagian peserta menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap ajaran Kristen, sementara yang lain membagikan pengalaman mereka ketika berinteraksi atau berdialog dengan para misionaris.
Suasana diskusi yang aktif dan kondusif menunjukkan bahwa model ujian berbasis presentasi ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi akademik, tetapi juga media pembelajaran yang efektif dalam memperluas wawasan serta menumbuhkan semangat berdakwah secara ilmiah dan santun. ***
Kelas Kepakaran Kristologi merupakan salah satu program pengembangan kompetensi yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam mengenai ilmu Kristologi sebagai bekal dalam aktivitas dakwah. Program ini bertujuan memberikan dukungan dan fasilitas kepada mahasiswa yang memiliki minat serta potensi di bidang Kristologi, mempersiapkan kader da'i yang tangguh dan memiliki kemampuan berdialog secara ilmiah, serta melanjutkan estafet keilmuan Kristologi dari para pakar dan pengajar kepada generasi penerus.
Pada awalnya, program kepakaran ini hanya diselenggarakan di STID Mohammad Natsir Kampus Ikhwan yang berlokasi di Tambun, Bekasi. Memasuki tahun 2026, program tersebut mulai dibuka di Kampus Akhwat dengan menerima Angkatan Pertama yang terdiri atas 11 mahasiswi dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta Pengembangan Masyarakat Islam (PMI).
Ujian akhir dilaksanakan selama tiga hari, yaitu pada 21–23 Juli 2026. Berbeda dengan pola ujian konvensional, setiap kelompok yang terdiri atas dua hingga tiga mahasiswi melakukan presentasi di lima kelas yang berasal dari berbagai semester dan program studi.
Setiap sesi berlangsung selama kurang lebih 60 menit dengan menggunakan media presentasi (PowerPoint), dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama audiens. Materi yang dipresentasikan mencakup berbagai tema dalam kajian Kristologi yang telah dipelajari selama mengikuti program kepakaran.
Model ujian ini dirancang sebagai bentuk evaluasi praktik yang mengintegrasikan penguasaan materi, kemampuan komunikasi, serta keterampilan menyampaikan dakwah secara ilmiah. Melalui presentasi tersebut, peserta tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menjelaskan materi secara sistematis, menjawab berbagai pertanyaan, serta berdialog dengan baik di hadapan audiens.
Lebih dari sekadar mengukur tingkat penguasaan materi, pelaksanaan ujian ini juga bertujuan memperluas wawasan mahasiswi lain yang belum mengikuti Kelas Kepakaran Kristologi. Dengan demikian, materi yang telah dipelajari oleh peserta dapat dibagikan kepada sivitas akademika yang lebih luas sebagai bagian dari proses edukasi dan penguatan bekal dakwah.
Hal ini sejalan dengan hakikat dakwah yang tidak hanya ditujukan kepada sesama Muslim, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat yang berbeda keyakinan dengan tetap mengedepankan hikmah, etika, dan dialog yang baik.
Pelaksanaan kegiatan ini memperoleh respons yang sangat positif dari para mahasiswi yang mengikuti presentasi. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Sebagian peserta menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap ajaran Kristen, sementara yang lain membagikan pengalaman mereka ketika berinteraksi atau berdialog dengan para misionaris.
Suasana diskusi yang aktif dan kondusif menunjukkan bahwa model ujian berbasis presentasi ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi akademik, tetapi juga media pembelajaran yang efektif dalam memperluas wawasan serta menumbuhkan semangat berdakwah secara ilmiah dan santun. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)