Penulis: Putri Siti Ruqoyyah |
Beberapa waktu terakhir, diskursus mengenai kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) memang sedang berada di puncak popularitasnya. Kita melihat AI mulai merambah ke segala lini, mulai dari membantu pengerjaan tugas kuliah hingga menjadi alat utama dalam proses kreatif.
Tren ini memang mempermudah, namun di sisi lain, sering kali membuat kita abai pada satu elemen yang tak bisa direplikasi oleh barisan kode: human touch.
Di tengah arus digitalisasi yang serba instan ini, sebuah unggahan dari akun Instagram @maininfilm menarik perhatian saya. Mereka mengangkat kisah sekelompok siswa SMK yang berhasil memproduksi film animasi berjudul "Garuda di Dadaku".
Hal yang membuat karya ini spesial bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan justru sebaliknya. Film ini lahir dari keringat, kreativitas, dan ketekunan para pelajar tersebut tanpa campur tangan AI.
Mereka memilih jalan yang lebih berat: membangun cerita dan visual dari nol, murni dari imajinasi dan skill tangan sendiri. Bagi saya, ini adalah antitesis yang menampar bagi kita yang sering kali terlalu bergantung pada "jalan pintas" digital.
Ada ironi yang cukup tajam ketika kita membandingkan upaya anak-anak SMK ini dengan apa yang terjadi di tingkat yang lebih tinggi. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana sebuah proyek animasi pemerintah yang konon menelan biaya fantastis justru berakhir tragis karena kualitasnya yang jauh dari ekspektasi.
Perbandingannya sederhana namun telak: di satu sisi ada sekelompok siswa dengan keterbatasan sumber daya namun punya determinasi tinggi, dan di sisi lain ada proyek dengan sokongan dana besar namun minim visi dan eksekusi.
Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan sebagai generasi muda?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadi audiens yang hanya bisa membuat kericuhan di kolom komentar atau sibuk memperdebatkan hal-hal yang tidak produktif. Sudah waktunya kita mengubah paradigma. Mendukung karya anak bangsa bukan sekadar memberikan like atau share di media sosial, melainkan tentang menghargai proses panjang di balik sebuah karya.
Film "Garuda di Dadaku" adalah pengingat bahwa di era yang serba otomatis, dedikasi tetaplah mata uang yang paling berharga. Jangan biarkan karya yang lahir dari ketulusan kalah oleh algoritma atau proyek-proyek "titipan" yang tidak punya jiwa. Pada akhirnya, negara ini butuh kreator yang berani berkarya dengan jujur, bukan sekadar mereka yang pandai memanfaatkan teknologi untuk menutupi minimnya usaha.
Karya anak SMK ini sudah membuktikan bahwa tekad bisa mengalahkan segalanya. Sekarang, giliran kita yang menentukan: mau terus menjadi penonton yang sinis, atau menjadi pendukung bagi mereka yang benar-benar berjuang? ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)