Sabtu, 05 September 2026

Mengadu Nasib di Organisasi Kader

Penulis: Ahmad Firdaus |

Tidak semua orang bergabung dengan organisasi kader karena ingin berjuang. Sebagian datang untuk belajar, berkorban, dan mengabdi. Namun, ada pula yang datang karena melihat peluang: berharap jabatan, pengaruh, atau jalan menuju kedudukan.


Ketika jabatan menjadi tujuan, proses kaderisasi sering kali berhenti. Semangat belajar memudar, pembinaan dianggap tidak penting, dan amanah dipandang sebagai hak yang harus dipertahankan, bukan tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Akibatnya, organisasi tidak lagi sibuk mencetak kader, tetapi sibuk menjaga kursi. Orang-orang yang lebih mampu justru dianggap sebagai pesaing. Generasi baru tidak diberi ruang. Kritik yang membangun dipandang sebagai ancaman.

Padahal, organisasi kader berdiri bukan untuk menciptakan pengikut, tetapi untuk melahirkan penerus. Keberhasilan sebuah organisasi bukan diukur dari lamanya seseorang menduduki jabatan, melainkan dari banyaknya kader baru yang tumbuh lebih baik daripada para pendahulunya.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Ali 'Imran: 104).

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah adalah tugas kolektif. Karena itu, kaderisasi tidak boleh berhenti pada satu generasi atau beberapa tokoh saja.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Jabatan bukanlah hadiah, tetapi amanah. Amanah bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta'ala.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang tidak membuat anggotanya bergantung pada tokoh tertentu, tetapi melahirkan banyak pemimpin baru. Sebaliknya, organisasi akan melemah ketika kaderisasi kalah oleh kepentingan mempertahankan posisi.

Maka setiap aktivis perlu bertanya kepada dirinya: Apakah saya hadir untuk membesarkan dakwah, atau membesarkan diri? Apakah jabatan yang saya emban melahirkan kader-kader baru, atau justru menghambat lahirnya penerus?

Sebab, pada akhirnya, yang dikenang bukanlah siapa yang paling lama memegang jabatan, tetapi siapa yang paling banyak melahirkan generasi yang meneruskan perjuangan di jalan Allah.

Organisasi yang kehilangan kaderisasi sedang berjalan menuju kemunduran. Sebaliknya, organisasi yang berhasil melahirkan kader-kader yang lebih baik daripada pendahulunya sedang menyiapkan masa depan dakwah.

(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)