Penulis: Ahmad Firdaus |
Pernahkah kita mendengar ungkapan: “Ah, dia kan cuma marbot di masjid — tak perlu terlalu pintar, cukup jaga dan bersih‑bersih saja”? Atau melihat anggapan bahwa orang yang mengabdi di masjid itu pasti orang yang kurang berilmu, tampak kumuh, dan tak perlu menambah pengetahuan agama?
Mari kita buka lembaran sejarah Islam dan bertemu sosok luar biasa: Abu Hurairah r.a. — sahabat Nabi yang termasuk dalam golongan Ashabush Shuffah, orang‑orang yang tidak memiliki rumah tetap, tinggal di teras belakang Masjid Nabawi, hidup sederhana bahkan sering menahan lapar demi mendengarkan ilmu dari Rasulullah SAW.
Beliau bukanlah pejabat besar, bukan orang kaya, bukan pula datang dengan gelar terhormat di awalnya — namun justru di sudut masjid itulah beliau menyerap sabda Nabi, menyimpannya dengan hati, lalu menjadi salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits bagi umat Islam!
Beliau pernah menceritakan bagaimana perutnya diikat dengan batu karena lapar, demi tetap berada di dekat Nabi SAW untuk menuntut ilmu. Bayangkan: orang yang tinggal di masjid, hidup sederhana, justru menjadi sumber ilmu yang kita pelajari sampai hari ini! Ini adalah pesan yang sangat kuat untuk kita semua — terutama bagi para marbot dan pengabdi masjid masa kini.
Mengapa Muncul Persepsi yang Salah?
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, muncul gambaran yang terdistorsi: banyak orang (bahkan kadang si marbot sendiri) berpikir:
“Sudah jadi marbot, tugasku cuma merawat masjid — belajar itu untuk imam, ustadz, atau orang lain saja.”
Ada pula yang menilai dari penampilan atau keadaan hidup: “Karena tampak sederhana atau bekerja di masjid, berarti tidak punya ilmu.” Padahal ingatlah: Abu Hurairah tinggal di masjid, hidup miskin, namun haus akan ilmu! Sederhana bukan berarti bodoh; bekerja di masjid bukan berarti terbebas dari kewajiban mencari pengetahuan.
Marbot itu bukan sekadar “penjaga gedung” — ia adalah orang yang dipercaya untuk menjaga Rumah Allah, menjadi wajah pertama yang ditemui jamaah, berada di tempat di mana ilmu dan ibadah berkumpul! Justru karena ia ada di sana, ia memiliki kesempatan emas untuk mendengar, bertanya, membaca, dan tumbuh dalam agama.
Bukan Hanya Kisah Abu Hurairah Saja!
Banyak ulama dan periwayat hadits lainnya seperti Imam Bukhari pun menghabiskan waktu lama di masjid, menetap dan menimba ilmu di tempat ibadah ini. Mereka mengajarkan satu hal penting: masjid adalah tempat belajar terbesar di dunia Islam! Bukan tempat di mana orang hanya datang untuk bekerja lalu berhenti berkembang.
Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim — tidak ada pengecualian karena jabatan, pekerjaan, ataupun status sosial. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang‑orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba‑hamba‑Nya, hanyalah orang‑orang yang berilmu.” (Fatir: 28)
Pesan Untuk Kita Semua
Bagi para marbot dan pengabdi masjid: Jangan biarkan pikiran “aku cuma marbot, tak perlu pintar” menguasai hatimu! Keberadaanmu di masjid adalah anugerah — gunakanlah waktu dan tempat itu untuk belajar sedikit demi sedikit: mengenal hadits, memahami Al‑Qur’an, mempelajari akidah dan adab agama.
Bagi kita yang melihat mereka: Jangan menilai martabat atau keilmuan seseorang dari penampilan, pekerjaan, atau keadaan hidupnya! Kita tidak tahu siapa yang sedang menyimpan ilmu besar di hati seperti Abu Hurairah RA.
Ingatlah: Abu Hurairah tidak menjadi besar karena tempat tinggalnya atau penampilannya — beliau menjadi terkenal karena kehausan akan ilmu, keikhlasan mengabdi, dan kesetiaan menjaga apa yang beliau terima dari Rasulullah SAW.
Marbot masa kini bukan harus persis menjadi Ashabush Shuffah — tapi semangatnya harus ada: menjaga masjid, sambil terus menumbuhkan ilmu di dalam hati!
Semoga kita semua dapat memuliakan masjid, menghormati para pengabdi masjid, dan bersama‑sama mengejar cahaya ilmu yang pernah dinikmati Abu Hurairah RA di Masjid Nabawi itu! ***
(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)
(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)
