Minggu, 01 November 2026

Bangun-bangun Jadi Gibran

Penulis: Irwan One Ariefyanto |

Ini akibat kebanyakan nonton dracin alias drama Cina di MRT sambil menunggu kereta. Apalagi pagi itu mata saya berat sekali.

Sumber foto: pngwing.com

Resep dracin sudah baku: tokoh utama pingsan, lalu bangun dengan jiwa nyasar ke tubuh orang lain. Bisa jadi pangeran, selir kaya raya, atau pengusaha yang nasibnya berantakan.

Nah, ketika membuka mata, saya kaget setengah mati. Saya berubah menjadi Gibran Rakabuming.

Panik seketika. Saya meraba-raba muka sendiri.

"Bentar… ini muka siapa? Kok saya tiba-tiba jadi Wakil Presiden?!"

Ajudan masuk membawa map setebal revisi skripsi.

"Agenda hari ini, Mas."

Saya melongo. Selama ini saya kira tugas Wapres cuma meninjau lokasi, tersenyum ke kamera, lalu pulang membawa foto dokumentasi buat feeds Instagram.

"Ada waktu kosong buat push rank Mobile Legends, nggak?"

"Belum ada, Mas."

Ya sudah. Daripada jadi penonton yang jengkel di kolom komentar, mumpung dapat jalur cepat tanpa repot ribut soal ijazah, langsung saja saya eksekusi. Kapan lagi rakyat biasa pegang kendali tanpa capek perang ketikan di medsos?

Saya kumpulkan para menteri. Di meja saya siapkan kacang rebus, jahe hangat, ubi, dan jagung rebus. Banyak menteri sudah berumur dan badannya mulai melar. Saya khawatir kolesterol, asam urat, dan gula darah ikut hadir di ruang rapat tanpa diundang.

"Saudara-saudara, kurangi gorengan, perbanyak rebusan. Negara ini butuh pikiran jernih, bukan sekadar perut kenyang."

Para menteri saling pandang.

"Mulai hari ini kita kerja serius. Saya tahu publik mempertanyakan kapasitas dan legitimasi saya. Daripada habis tenaga berdebat di medsos, mari kita buktikan lewat hasil. Setiap program harus punya target nyata dan manfaat terukur."

Beberapa orang mengangguk. Saya tidak tahu mereka setuju atau sedang menghitung sisa umur jabatan masing-masing.

Belum apa-apa saya sudah merasa seperti kepala puskesmas yang sedang mengedukasi pasien lansia.

Berikutnya saya meluncur ke Kartanegara menemui Pak Prabowo dan mengajaknya bermain catur. Bukan karena mendadak jadi Grandmaster, tapi karena kalau diajak bicara serius langsung, orang biasanya kabur.

"Pak, satu babak ya. Sambil jalan, saya mau bahas prioritas negara. Oh ya, jangan terlalu sering marah-marah, Pak. Rakyat lebih senang kalau Bapak tersenyum."

Prabowo menggerakkan kuda. Saya menggerakkan benteng.

"Semua program sebaiknya dievaluasi terbuka, Pak. Mana yang dibutuhkan rakyat, mana yang direvisi, mana yang dicoret. Jangan dipertahankan hanya karena sudah telanjur diumumkan pas kampanye."

Prabowo diam sebentar, lalu memajukan pion.

"Dan kalau rakyat diminta mengencangkan ikat pinggang, pemerintah harus kasih contoh duluan. Perjalanan dinas ke luar negeri silakan, asal hasilnya bukan cuma foto jabat tangan dan gantungan kunci buat keluarga."

Dalam catur, mengorbankan bidak itu bagian dari strategi. Dalam politik, yang dikorbankan biasanya rakyat, lalu yang menang tetap berpidato: "Ini semua demi bangsa dan negara."

Saya teringat warung makan sepi dekat rumah. Orang beli karena kasihan: "Beli ah, kasihan warungnya sepi." Setelah makanannya dicicipi, baru sadar: "Oh… pantesan sepi."

Jangan sampai rakyat memilih pemimpin dengan logika yang sama. "Coblos ah, kasihan sudah tiga kali kalah." Begitu berkuasa, rakyat baru mengelus dada: "Oh… pantesan kalah terus."

Kasihan boleh. Tapi negara bukan kotak amal.

Sambil menggeser bidak, saya sentuh penyakit lama: bagi-bagi kue kekuasaan.

"Jabatan publik harus diisi orang kompeten, Pak, bukan sekadar yang paling rajin bikin story dukungan atau pernah satu ormas. Loyalitas penting, tapi jangan jadi satu-satunya ijazah. Kalau pekerjaan sudah bisa ditangani Ditjen, buat apa bikin lembaga baru? Negara ini bukan grup arisan yang pengurusnya dipilih gara-gara paling akrab sama ketua."

Prabowo menatap papan, lalu menatap saya lama. Alisnya mulai naik.

Padahal, kalau mau, dua langkah lagi raja saya sebenarnya bisa lolos. Tapi saya teringat ajaran bapak sejak kecil: jangan menang dari orang yang lebih tua, apalagi kalau orangnya Presiden dan saya tamu di rumahnya.

Maka dengan akting yang cukup meyakinkan, saya menaruh menteri saya di petak yang salah. Menteri jatuh, tentu saja. Di negara ini, kalau menteri jatuh biasanya tidak ada yang kaget.

"Skak mat," kata Prabowo.

Saya pura-pura terkejut. "Wah, Bapak hebat sekali."

Beliau tertawa puas. Ternyata kekalahan saya membuat suasana jauh lebih cair daripada seluruh isi pidato saya tadi.

Hari itu saya kalah, tapi kalah dari orang tua tidak apa-apa. Yang bikin sedih kalau rakyat terus-terusan kalah dari orang yang bukan siapa-siapanya.

Saya berdiri, menyalami beliau, lalu mencium tangannya.

"Pamit dulu, Pak. Masih banyak kunjungan. Jangan lupa tersenyum ya, Pak."

Di luar, ajudan sudah menunggu sambil melirik jam. "Mas, kalah main catur sama Presiden itu pilihan paling aman."

"Saya tahu," kata saya. "Itu juga strategi."
Dari situ saya meluncur ke Kuningan menemui pimpinan KPK.

"Pak, kalau kekurangan personel intelijen, bagaimana kalau kita rekrut ibu-ibu kompleks?"

Ketua KPK mengedipkan mata, bingung.

"Serius, Bos. Ibu-ibu di lapak tukang sayur itu tahu siapa yang tiba-tiba beli mobil baru, rumah siapa yang mendadak direnovasi, dan siapa yang biasanya naik Supra tiba-tiba dijemput Alphard. Itu bukan gosip. Itu Focus Group Discussion berbasis pengamatan lingkungan. Kecepatannya mengalahkan ninjutsu Naruto."

Tentu info tukang sayur bukan alat bukti sah di pengadilan. KPK tetap butuh penyelidikan profesional. Tapi semangatnya patut ditiru: jangan malas mencari tahu, dan jangan sampai rakyat kecil gampang digerebek sementara pejabat berkuasa mendadak sulit disentuh hukum.

Napas saya mulai ngos-ngosan. Dari KPK, saya lanjut ke Cilangkap bertemu Panglima TNI.

"Pak Panglima, tugas tentara itu menjaga kedaulatan dan melindungi rakyat. Kekuatan militer bukan diukur dari seberapa takut rakyat pada seragam. Kalau warga takut pada aparat yang seharusnya melindungi mereka, mereka harus mengadu ke siapa?"

Panglima tersenyum tipis. Mungkin bingung: ini Wapres sedang rapat koordinasi atau sedang mengigau?

Dari Cilangkap, saya langsung ke Trunojoyo menemui Kapolri. Ajudan sudah membawa air mineral cadangan, seperti pemandu rombongan study tour.

"Pak Kapolri, di dinding kantor polisi tertulis: pelindung, pengayom, pelayan masyarakat. Tolong, Pak, sesekali dipraktikkan, jangan cuma dipajang."

Kapolri mengangguk pelan. Entah paham, entah sedang membuka ulang SOP.

"Soal mahasiswa yang demo, Pak. Mereka itu bukan musuh negara. Mereka anak orang, rakyat juga, yang resah lihat harga naik, kerjaan susah, dan masa depan makin buram. Kalau mereka turun ke jalan, itu tanda sayang sama negara. Orang yang sudah tidak peduli malah diam di rumah sambil scroll TikTok."

Saya mencondongkan badan.

"Jadi, Pak, jangan digebukin. Jangan dikejar-kejar. Jangan ditangkap lalu disuruh tanda tangan surat pernyataan, padahal salahnya cuma bawa spanduk. Itu mahasiswa, bukan buronan. Kalau salah, dinasihati. Kalau capek, kasih minum. Kalau lapar, kasih nasi bungkus. Tidak perlu ditendang."

Kapolri mencatat sesuatu. Mungkin daftar menu nasi bungkus.

"Gas air mata itu mahal, Pak. Lebih hemat beli teh botol sekardus. Pendemo adem, anggaran aman, dan tidak ada ibu-ibu yang menangis mencari anaknya di kantor polisi tengah malam."

Lalu saya tambahkan, pelan-pelan, supaya tidak terdengar seperti kritik.

"Dan satu lagi, Pak. Kalau rakyat kehilangan ayam, lapornya berminggu-minggu tanpa kabar. Tapi kalau ada demo, polisinya cepat sekali datang, lengkap dengan tameng dan barakuda. Giliran dimintai tolong, lambat. Giliran tidak diminta, gesit. Mohon dibalik, Pak."

Kapolri tersenyum tipis, mungkin menahan komentar.

"Kalau warga lapor ke polisi malah disuruh cari saksi sendiri dan urunan bensin, lebih baik mereka lapor ke tukang sayur saja. Gratis dan cepat."

Ajudan berbisik, "Mas, cukup, Mas. Kita belum makan siang."

Agenda paling berat saya simpan untuk terakhir: pulang ke Solo menemui Bapak.

"Pak, sekarang Bapak tenang-tenang saja di rumah, ya. Nggak usah terlalu sibuk memikirkan urusan negara. Kalau ingin tetap produktif, masjid di depan rumah selalu butuh tenaga. Ngurus sajadah itu enak, Pak. Kalau berantakan, tinggal dirapikan. Kalau politik berantakan, yang pusing satu negara."

Bapak mengernyit. Suasana mendadak hening, lebih dingin dari rapat kabinet saat ada usulan pemotongan anggaran dinas.

"Pak, warisan terbesar seorang pemimpin bukan memastikan keluarganya tetap di lingkaran kekuasaan. Warisan terbesar adalah sistem yang sehat, sehingga negara tetap berjalan baik meskipun keluarga kita sudah jadi warga biasa. Lagipula, cari pahala tidak harus pakai stempel dinas, kan?"

Menjelang sore, badan saya seperti dihantam truk. Pinggang pegal luar biasa gara-gara seharian duduk di mobil, lalu turun, jalan, naik lagi, turun lagi, ke sana kemari. 

Ternyata jadi Wapres bukan cuma ganti foto di dinding sekolah dan pakai jas hitam. Rakyat kira jabatan ini empuk, padahal yang empuk cuma jok mobilnya, itu pun tidak cukup untuk menyelamatkan tulang punggung.

Ajudan masuk lagi. "Mas, masih ada kunjungan lapangan."

"Lho, belum selesai juga? Saya belum makan siang, belum push rank, dan belum tahu ini negara apa!"

Ajudan terdiam. Mungkin baru kali itu ada Wakil Presiden yang hampir menangis karena belum sempat main gim.

Tiba-tiba badan saya bergoyang hebat. Saya kira gempa. Saya membuka mata.

Lho? Saya ternyata ketiduran di kursi peron MRT. Seorang petugas berdiri di depan saya sambil menahan tawa.

"Pak, kereta sudah tiga kali lewat. Bapak sakit? Ngoroknya kencang sekali, mirip mesin kereta diesel lama."

Saya usap muka cepat-cepat. Syukurlah, ini masih muka asli saya yang pas-pasan. Tidak ada ajudan, tidak ada map tebal, tidak ada rapat kabinet. Pinggang saya pun ternyata pegal bukan karena jabatan, melainkan karena tidur di bangku besi.

"Waduh, terlambat!"

Saya bergegas masuk ke gerbong yang baru datang, menikmati AC yang dinginnya luar biasa, lalu resmi kembali menjadi rakyat biasa.

Tapi satu pertanyaan masih mengganjal. Kalau sehari saja jadi Wapres membuat saya ingin membenahi begitu banyak hal, bagaimana dengan mereka yang memegang jabatan itu lima tahun penuh?

Mungkin yang perlu tukar jiwa bukan cuma Wakil Presidennya, melainkan seluruh pejabat. Biar mereka merasakan sendiri mahalnya beras, ruwetnya kemacetan, antrean BPJS dari subuh, dan perjuangan menghitung sisa saldo E-Wallet menjelang akhir bulan.

Siapa tahu setelah itu mereka sadar: drama yang sebenarnya bukan jiwa tertukar di peron MRT, melainkan negara yang terus berjalan seolah akan happy ending, padahal rakyatnya masih menunggu di peron tanpa tahu kapan keretanya datang.

Negara ini aman nggak, ya? Entahlah. Yang jelas, kalau besok pagi saya bangun dan ternyata benar-benar jadi Gibran, saya cuma punya satu permintaan: semoga stasiun tempat saya turun tidak terlewat lagi.

Sebab negara ini sudah cukup sering membuat rakyatnya menunggu: menunggu harga turun, menunggu keadilan, menunggu janji kampanye ditepati. 

Bedanya, kereta MRT lewat tiga kali dalam sejam. Janji kampanye lewat lima tahun sekali, itu pun tidak pernah berhenti di stasiun kita.

Dan jujur saja, saya mulai curiga dracin ini sengaja dibuat panjang, supaya rakyat tidak sempat pindah channel. ***

(Penulis adalah mantan jurnalis, sekarang bekerja di korporat)