Selasa, 29 Juli 2025

Dari Preman, Jadi Beriman 

Penulis: Putri Aiya Amanda |

Ada dua peristiwa penting yang terjadi dalam satu malam, yang benar-benar memberikan kesan mendalam di hati al-Fudhail bin Iyadh. Peristiwa-peristiwa ini menjadi titik balik dalam hidup beliau, yang menandai awal hijrahnya dari masa lalu yang penuh keburukan. Kisah tentang al-Fudhail bin Iyadh ini diceritakan oleh Al-Fadhl bin Musa dalam Siyar A'lam an-Nubala'(8/423).

Dahulu kala al-Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok yang biasa menghadang orang-orang yang lewat di jalan antara Abiverdi dan Sarakhs. Awal mula taubatnya terjadi ketika beliau jatuh cinta kepada seorang gadis.

Suatu malam, ia memanjat tembok rumah untuk menemui gadis tersebut. Namun, di tengah perjalanan, ia mendengar seseorang membaca ayat:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan kepada mereka? Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diberikan kitab, lalu berlalulah masa yang panjang atas mereka hingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hadid: 16)

Begitu mendengar ayat ini, al-Fudhail terhenyak dan bergumam, "Benar, ya Rabb, waktunya telah tiba."

Al-Fudhail kemudian pergi dan beristirahat di sebuah bangunan yang sudah rusak. Saat itu, datanglah sebuah rombongan yang sedang dalam perjalanan. Beberapa orang dari rombongan itu berkata, "Mari kita lanjutkan perjalanan." Namun, ada yang lain yang berkata, "Kita sebaiknya berhenti sampai pagi karena Fudhail ada di jalan ini, dia bisa saja menghadang dan merampok kita."

Mendengar percakapan itu, al-Fudhail merenung dalam hati, "Aku telah berbuat dosa sepanjang malam, sementara kaum muslimin di sini malah takut padaku. Aku menyadari, mungkin Allah membawaku ke sini agar aku berhenti dari kemaksiatan ini. Ya Allah, aku telah bertaubat kepada-Mu, dan aku menjadikan taubatku ini dengan tinggal di dekat Baitul Haram (Makkah)."


(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)