Penulis: Hairunniah |
Di atas Rooftop asrama yang jauh dari kampung halaman, seorang anak perantauan menatap foto kedua orang tuanya. Rindu itu datang tanpa diundang. Ia merindukan masakan ibunya, wajah ayahnya, tawa saudara-saudaranya, bahkan suara ponakan-ponakan kecilnya dari kampung yang selama ini menjadi teman hari-harinya.
Namun, pagi itu ia kembali menyampirkan tas di pundaknya. Bukan untuk mengejar dunia semata, tetapi untuk menuntut ilmu agar suatu hari mampu menjadi penerang bagi orang lain.
Menjadi perantau bukan hanya tentang berpindah tempat. Ia belajar menahan air mata ketika sakit tanpa keluarga. Belajar mengatur uang agar cukup hingga akhir bulan. Belajar tersenyum meski hati sedang rapuh. Dan yang paling berat, belajar tetap istiqamah di tengah lingkungan yang tidak selalu mendukung.
Di jalan dakwah, pengorbanan itu bertambah. Waktu istirahat sering terganti dengan mengajar Al-Qur'an, menghadiri kajian, menyapa masyarakat, atau menemani mereka yang sedang mencari jalan kembali kepada Allah. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan kamera. Yang ada hanyalah harapan agar Allah menerima setiap langkah kecil itu sebagai amal saleh.
Mungkin hari ini namanya tidak dikenal banyak orang. Tetapi di langit, semoga namanya disebut sebagai hamba yang berusaha menjaga agama-Nya.
Karena sejatinya, menjadi anak perantauan bukan sekadar meninggalkan rumah. Ia sedang belajar membangun masa depan, menguatkan iman, dan mempersiapkan diri untuk menjadi manfaat bagi umat.
Boleh jadi hari ini kita jauh dari keluarga karena dakwah dan menuntut ilmu. Namun, semoga kelak, setiap langkah yang terasa sepi menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita pernah berjuang di jalan-Nya. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)