Maju atau mundurnya suatu kaum tidak ditentukan oleh kekayaan alam semata,
bukan juga oleh teknologi yang mereka miliki, tetapi oleh pendidikan, karena pendidikan adalah kunci kesadaran dan peradaban.
Namun, di mana posisi kita hari ini? Apakah kita sekadar menjadi penonton sejarah, atau berani menjadi penulisnya?
Ingatlah, maju atau mundurnya suatu kaum bergantung kepada pendidikan. Pendidikan yang melahirkan kesadaran, mendorong keberanian, dan menuntun kita untuk menulis sejarah.
Kita hidup di era yang disebut sebagai paling bebas. Tapi benarkah bebas? Atau justru kita terbelenggu algoritma yang meninabobokan, menukar idealisme dengan likes, menjual jati diri demi validasi digital?
Sejarah mencatat, ketika para tokoh besar bangsa ini menghadapi pertanyaan besar,
mereka menjawabnya dengan ilmu dan tindakan. Allahuyarham Ahmad Dahlan pernah bertanya, “Mengapa umat ini tertinggal?” Beliau tidak berhenti pada pertanyaan.
Beliau membuka sekolah, mengajar, menyalakan cahaya di tengah kegelapan kebodohan.
mereka menjawabnya dengan ilmu dan tindakan. Allahuyarham Ahmad Dahlan pernah bertanya, “Mengapa umat ini tertinggal?” Beliau tidak berhenti pada pertanyaan.
Beliau membuka sekolah, mengajar, menyalakan cahaya di tengah kegelapan kebodohan.
Allahuyarham Hasyim Asy’ari bertanya, “Bagaimana membangunkan bangsa yang tidur?” Beliau tidak hanya mengeluh. Beliau memimpin santri, mengobarkan perlawanan melawan penjajah.
Allahuyarham M. Natsir bertanya, “Bolehkah agama dipisahkan dari kehidupan?”
Dan ia berdiri di parlemen, teguh mempertahankan nilai-nilai Islam.
Dan ia berdiri di parlemen, teguh mempertahankan nilai-nilai Islam.
Allahuyarham Ahmad Surkati menggugat, “Haruskah fanatisme buta membelenggu ilmu?” Ia pun menebas rantainya, membebaskan umat dengan keberanian dan pikiran yang jernih.
Mereka tidak menunggu “waktu yang tepat”, mereka menciptakannya. Lalu kita? Apa yang kita tanyakan hari ini? Tentang tren terbaru? Tentang drama digital yang viral kemarin? Ataukah kita masih punya waktu untuk bertanya: “Apa peran kita untuk agama, bangsa, dan masa depan?
Nabi bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari:
إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Apabila engkau tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
Tapi lihatlah sekitar kita hari ini, kalimat dalam hadis itu telah menjadi realitas. Padahal, sejarah tidak menulis nama penonton, hanya para pelaku. Maka, sampai kapan kita diam? Sampai kapan kita menunda untuk bergerak? Sampai kapan kita menunggu “waktu yang tepat” yang tak pernah datang?
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)