Penulis: Khorul Anam |
Bayangkan ada seseorang yang bekerja keras puluhan tahun, mengumpulkan aset miliaran rupiah, namun tiba-tiba dinyatakan pailit dan jatuh miskin dalam semalam? Di dunia, hal itu adalah sebuah tragedi. Di akhirat nanti, ada tragedi yang jauh lebih mengerikan: Ada orang yang menjadi bangkrut di hadapan Allah SWT yang disebut dengan istilah al-muflis.
Tragedi ini bukan menimpa orang yang malas beribadah, melainkan mereka yang sebenarnya adalah orang-orang yang termasuk ke dalam kategori rajin dalam beribadah. Namun sayangnya mereka abai dalam menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (habluminannas).
Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits no. 2581, Rasulullah SAW pernah melemparkan sebuah pertanyaan retoris kepada para sahabat:
أَتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ؟
"Tahukah kalian siapa yang disebut sebagai orang yang bangkrut?"
Lalu para sahabat menjawab dengan logika duniawi mereka:
المُفْلِسُ فِينا مَن لا دِرْهَمَ له ولا مَتاعَ
"Menurut kami, orang yang bangkrut adalah yang tidak memiliki uang atau harta benda."
Namun, kemudian Rasulullah SAW meluruskan pandangan mereka tersebut. Beliau menjelaskan bahwa kebangkrutan yang hakiki adalah kebangkrutan modal amal shaleh akibat perilaku zalim di dunia.
Beliau bersabda:
إنَّ المُفْلِسَ مِن أُمَّتي يَأْتي يَومَ القِيامَةِ بصَلاةٍ، وصِيامٍ، وزَكاةٍ، ويَأْتي قدْ شَتَمَ هذا، وقَذَفَ هذا، وأَكَلَ مالَ هذا، وسَفَكَ دَمَ هذا، وضَرَبَ هذا، فيُعْطَى هذا مِن حَسَناتِهِ، وهذا مِن حَسَناتِهِ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُهُ قَبْلَ أنْ يُقْضَى ما عليه أُخِذَ مِن خَطاياهُمْ فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ
"Sesungguhnya orang yang benar-benar bangkrut dari kalangan umatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, di saat yang sama, mereka juga membawa dosa karena pernah mencela, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama..." ( (Riwayat Muslim, no. 2581).
Bagaimana Proses Kebangkrutan Akhirat Terjadi?
Hari kiamat adalah hari penegakkan keadilan yang seadil-adilnya (yaumul hisab). Di hari itu, mata uang yang berlaku bukan lagi rupiah, dinar, atau dollar, melainkan pahala dan dosa.
Ketika orang yang zalim disidang, maka proses transfer massal segera terjadi:
1. Transfer Pahala: Kebaikan-kebaikan (pahala shalat, puasa, zakat) milik para pelaku kezaliman akan dipotong dan ditransfer kepada orang-orang yang pernah ia sakiti, ia fitnah, atau ia rugikan saat di dunia.
2. Transfer Dosa: Jika semua tabungan pahala si pelaku kezaliman sudah habis terbagi, sementara tuntutan dari korban kezalimannya belum juga tuntas dan selesai, maka dosa-dosa milik korban akan dipindahkan dan ditimpakan ke punggung si pelaku kezaliman tersebut.
3. Hasil Akhirnya: Pelaku kezaliman akan kehilangan seluruh modal amal surganya, ditambah lagi harus memikul dosa orang lain yang dizaliminya, dan akhirnya ia pun dilempar ke dalam neraka.
Bentuk Kezaliman yang Menghapus Pahala
Berdasarkan hadis di atas, kita harus sangat waspada terhadap lima perilaku yang sebenarnya sangat destruktif akan tetapi sering dianggap remeh padahal akibatnya sungguh fatal:
Pertama, mencela (shatama), yakni menghina, mengejek, atau merendahkan fisik dan kehormatan orang lain (termasuk cyberbullying di media sosial).
Kedua, menuduh tanpa bukti (qadhafa), yakni memfitnah, menyebarkan hoaks, atau menuduh seseorang berbuat buruk tanpa saksi dan bukti yang sah.
Ketiga, memakan harta orang lain (akala mala hadza), yakni korupsi, mencuri, menipu dalam jual beli, enggan membayar utang, atau memotong hak upah pekerja melalui manipulasi data.
Keempat, menumpahkan darah (safaka dama hadza), yakni melukai fisik, menganiaya, hingga menghilangkan nyawa orang lain.
Kelima, memukul (dharaba hadza), yakni melakukan kekerasan fisik (KDRT, tawuran, atau intimidasi fisik).
Jadi, ibadah ritual yang dilakukan dalam rangka menjalin hubungan vertikal (kepada Allah) seperti shalat malam yang panjang atau puasa yang berturut-turut, bisa menjadi sia-sia jika tidak diiringi dengan akhlak yang baik dalam menjaga hubungan horizontal kepada sesama manusia.
Allah SWT mungkin akan mengampuni dosa kita kepada-Nya melalui taubat nasuha. Namun, dosa kepada sesama manusia dengan melakukan kezaliman tidak akan diampuni oleh Allah Ta'ala, sampai korban yang dizalimi itu memberikan ma’af kepadanya.
Mumpung napas masih dikandung badan dan pintu maaf di dunia masih terbuka, mari segera selesaikan dengan baik segala urusan yang berkaitan dengan hak-hak orang lain yang masih mengganjal pada diri kita.
Kita tidak perlu malu-malu kepada manusia, tetapi malulah kepada Allah. Jangan sampai kita menghadap kepada Allah dengan status sebagai seorang muflis, atau orang yang bangkrut. *
(Penulis adalah dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Quran dan Tafsir di Pesantren Hidayatullah Medan)
