Penulis: Khoirul Anam |
Allah Ta'ala berfirman di dalam al-Qur'an surat Al-Isrā’ ayat 53, sebagai berikut:
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ٥٣
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sungguh, setan (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita adab berbicara, terutama ketika terjadi perbedaan atau interaksi dengan orang lain.
يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“(Hendaklah) mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”
Allah Ta'ala tidak sekadar memerintahkan perkataan yang baik (حَسَنًا), tetapi justru yang lebih baik (أَحْسَنُ). Artinya, ketika ada beberapa pilihan ucapan yang semuanya mungkin benar, seorang mukmin hendaknya memilih ungkapan yang paling lembut, paling santun, paling mendatangkan maslahat, dan paling jauh dari menimbulkan permusuhan.
Kemudian Allah Ta'ala menjelaskan alasannya:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
“Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.”
Kata يَنْزَغُ berarti menghasut, menyulut, atau melakukan provokasi sehingga menyebabkan hubungan manusia menjadi rusak. Kadang-kadang persoalannya hanyalah persoalan kecil, tetapi karena diucapkan dengan kalimat atau ungkapan yang kasar, sehingga dapat membuatnya menjadi besar atau menimbulkan masalah besar.
Karena itu, ayat ini seakan-akan mengajarkan kepada kita semua agar jangan memberi kepada setan jalan masuk melalui lisan kita atau sebab lisan kita.
Karena, sebuah perkataan yang sebenarnya adalah benar, namun jika disampaikan dengan cara yang kasar, merendahkan, atau menyakitkan, maka dapat menjadi pintu pertengkaran. Sebaliknya, perkataan yang disampaikan dengan hikmah dan kelembutan dapat meredakan perselisihan.
Penutup ayat ini semakin menegaskan bahayanya:
إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
(Penulis adalah dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Quran dan Tafsir di Hidayatullah Medan)