Kadang kita merasa sedang berjihad membela kebenaran, tetapi tanpa sadar yang kita lawan justru saudara sendiri. Berbeda pendapat berubah menjadi permusuhan, kritik berubah menjadi serangan, menjaga amanah berubah menjadi saling menuduh, bahkan aib saudara dibongkar demi membuktikan siapa yang benar.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (Al-Hujurat: 10)
Belajar dari Nabi Musa dan Nabi Harun
Al-Qur'an menggambarkan betapa beratnya kemarahan Nabi Musa ketika kembali kepada kaumnya dan mendapati mereka menyembah anak sapi.
Allah berfirman:
وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ
Dan Musa memegang kepala saudaranya (Harun), menariknya ke arahnya. (Al-A'raf: 150)
Dalam ayat lain disebutkan:
يَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي
Janganlah engkau memegang janggutku dan jangan pula kepalaku. (Thaha: 94)
Nabi Musa sangat marah karena melihat kaumnya tersesat. Tetapi Nabi Harun kemudian menjelaskan bahwa ia telah berusaha mencegah mereka dan khawatir perpecahan akan semakin besar.
Ini pelajaran penting: Bahkan dalam perjuangan menegakkan agama, emosi dapat muncul. Namun setelah itu harus ada penjelasan, klarifikasi, dan kembali kepada kebenaran. Jangan menjadikan kemarahan sebagai pembenaran untuk terus memusuhi saudara.
Jangan Sampai Terjebak Konflik Internal
Kadang orang yang dahulu berjuang bersama akhirnya saling menyerang hanya karena berbeda pandangan, posisi, atau cara. Padahal energi yang seharusnya digunakan untuk melayani umat habis untuk membicarakan saudara sendiri.
Kita sibuk membuktikan siapa yang salah, sementara umat membutuhkan keteladanan. Kita sibuk membuka kekurangan saudara, sementara diri sendiri belum tentu bebas dari kekurangan.
Jika ada pelanggaran amanah, periksa dan selesaikan dengan adil. Jika ada informasi, tabayyun terlebih dahulu. Jika ada perbedaan, musyawarahkan. Jika ada kesalahan, nasihati dengan adab. Jika ada konflik, jangan buru-buru menjadikannya perang terbuka.
Allah Ta'ala mengingatkan:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
Janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Al-Ma'idah: 8)
Jihad Terbesar: Mengalahkan Ego
Sebelum sibuk memenangkan perdebatan, mari memenangkan perjuangan melawan ego. Mampu mengkritik tanpa menghina, mampu berbeda tanpa membenci, mampu menegur tanpa mempermalukan, mampu meminta pertanggungjawaban tanpa dendam, dan mampu memaafkan ketika memiliki kesempatan membalas.
Jangan sampai kita memenangkan pertengkaran, tetapi kehilangan saudara. Jangan sampai kita memenangkan posisi, tetapi kehilangan ukhuwah. Dan, jangan sampai kita merasa sedang berjihad membela agama, sementara yang sebenarnya sedang kita perjuangkan adalah ego dan harga diri.
Berbeda dalam pandangan boleh-boleh saja. Berbeda dalam strategi juga boleh saja.Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan iman.
Lawanlah kebatilan dengan ilmu dan keadilan, tetapi jangan jadikan saudara seiman sebagai musuh. *
