Senin, 26 Desember 2022

Sabar Itu Ada Batasnya, Benarkah?

Penulis: Mega Octavia |

Kita pasti sering mendengar ujaran ini. Bahkan, tanpa kita sadari, kalimat ini keluar dari lisan kita, bukan sekadar dari mulut orang awam. Biasanya ujaran seperti ini muncul ketika seseorang, termasuk kita sendiri, sedang tertimpa musibah atau masalah.

Sejatinya, apabila kita mengucapkan kalimat tersebut, kita termasuk golongan orang-orang yang tidak cukup memahami apa hakikat kesabaran itu sendiri. Pada hakikatnya, sabar itu harus ada dalam tiga keadaan.

Pertama, sabar dalam melakukan kebaikan dan ketaatan.

Sabar jenis ini merupakan perkara yang sulit. Bayangkan, dalam hal ketaatan pun kita harus tetap bersabar.

Adakalanya ketika kita melakukan ketaatan, rasa malas serta gangguan lainnya sering kali menghampiri kita. Jika dikatakan sabar itu ada batasnya, maka tidak akan ada orang yang selalu teguh dalam meniti jalan ketaatan kepada Allah Ta'ala.

Kedua, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan.

Dalam hal kemaksiatan, kita harus bersabar untuk tidak tergiur ikut-ikutan melaksanakannya. Hal ini sejalan dengan kesabaran kita untuk tetap berdiri kokoh dalam menjalankan ketaataan kepada Allah Ta'ala.

Ketiga, sabar dalam menerima takdir dan ketetapan yang telah Allah Taala berikan.

Nah, kesabaran yang satu inilah yang sering kali dipungkiri oleh sebagian orang. Kebanyakan dari kita, ketika tertimpa musibah, akan mengeluh dan mulai menyalahkan takdir yang Allah Ta'ala berikan.

Padalah, dengan kita bersabar atas ujian yang Allah Ta'ala berikan maka Allah akan memberikan ganjaran sebagaimana kesabaran yang kita lakukan tersebut.

Wallahu A'lam ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)