Sabtu, 14 Februari 2026

Tinta yang Ditanyai

Penulis: Siti Endah Permata |
 
Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah berkata, "Kebahagiaan manusia adalah dengan baiknya tiga hal (yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati). Sedang kesengsaraan manusia adalah karena rusaknya tiga hal tersebut." (Miftah Daar As-Sa'adah, 1:354)

Foto ilustrasi: Pixabay.com

Ada tinta yang tak pernah pudar. Ada kalimat yang tak lapuk ditelan zaman. Ia bukan sekadar aksara, tapi napas yang dituliskan oleh mereka yang hidup untuk ilmu, dan wafat dalam cahaya amal. 

Ketika mata kita menelusuri lembaran-lembaran kitab para ulama, kita tidak hanya sedang membaca, tapi sedang menyentuh jejak kehidupan. Kita sedang bertamu ke dalam ruang pikir dan hati mereka. Dan, dalam keheningan lembar-lembar itu, suara mereka masih terdengar jelas, tegas, dan jujur.

Hari ini, kita membaca karya Ibnul Qayyim. Kita membaca Zadul Ma'ad, Madarijus Salikin, Miftah Daar as-Sa'adah. Kita membaca tinta yang dulu dituliskan dengan hati, sambil menahan lapar, dalam sepi, dan dalam cinta kepada Allah yang tak bisa dibayar dunia. 

Namun, pertanyaannya bukan hanya: sudahkah kita membaca? Tapi juga: apa yang telah kita tulis untuk dikenang? Apa yang akan bersaksi untuk kita kelak?

Mata adalah jendela pertama menuju ilmu. Melalui penglihatan, kita menyerap huruf demi huruf, kata demi kata, yang pada akhirnya menjadi bekal berpikir dan bertindak. 

Ada banyak mata di dunia ini, tapi tidak semua digunakan untuk membaca kebaikan. Sebagian sibuk mengamati kehidupan orang lain, sebagian terjebak dalam layar yang tak mengajarkan apa-apa. 

Namun, ada pula yang memilih menatap kitab, menyusuri jejak para salaf, membaca ayat-Nya, dan merenungi maknanya.

Imam Ibnul Qayyim, dengan penglihatannya, membuka lautan hikmah. Beliau tidak hanya membaca buku, tapi membaca kehidupan dengan mata hati. Tiap tulisannya seperti jendela yang mengajak kita melihat dunia dengan kacamata iman. 

Maka membaca bukan sekadar aktivitas akademis, tapi bentuk pengabdian. Karena dari membaca yang benar, akan lahir pemahaman, lalu amal, lalu warisan.

Telinga kita tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada suara yang masuk, yang baik atau buruk. Tapi tak semua yang terdengar menyentuh hati. Sebagian orang mendengar lantunan al-Qur'an tanpa merasa gentar. Sebagian lain mendengar nasihat, tapi hatinya tertutup. Namun, ada juga mereka yang --ketika mendengar satu kalimat hikmah-- matanya basah, jiwanya berubah. Dan, dari satu kalimat itu, lahirlah langkah baru yang lebih baik.

Imam Ibnul Qayyim adalah murid dari Imam Ibnu Taymiyyah. Dari telinganya yang setia mendengar pelajaran, lahirlah ribuan halaman pemikiran. Ia tidak sekadar mendengar, ia menyerap, menimbang, lalu menuliskan kembali dengan cahayanya sendiri. 

Telinga yang diberkahi adalah yang mampu membedakan mana suara kebenaran dan mana bisikan kebatilan. Dan, telinga itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak, bukan hanya apa yang ia dengar, tapi apa yang ia abaikan.

Hati adalah pusat semua. Ia yang menggerakkan mata dan telinga. Ia yang memutuskan apakah kita akan menulis atau melupakan, akan berjalan atau diam, akan hidup atau mati, meski raga masih bernapas. Dalam hati yang hidup, setiap ilmu akan menemukan rumah. Dan, dalam hati yang bersih, setiap nasihat akan berakar.

Ibnul Qayyim menulis bukan untuk mengesankan, tapi untuk menyelamatkan. Tulisannya bukan sekadar produk akal, tapi buah dari hati yang bertafakur. Maka tak heran jika kalimatnya menembus zaman. Sebab, ia  ditulis dengan keikhlasan yang tulus. 

Bagi orang-orang seperti beliau, menulis bukan perkara gaya. Tapi, perkara tanggung jawab. Karena mereka tahu: suatu hari nanti, tulisan itu akan bersaksi.

Dari sinilah kita kembali pada tema yang sederhana namun dalam: membaca tintanya, menulis. Kita membaca tulisan para ulama, dan dari situ kita mendapatkan cahaya. Tapi apakah kita cukup hanya menjadi pembaca? Apakah kita tidak ingin juga menulis sesuatu yang bisa dibaca orang lain, setelah kita tiada?

Menulis bukan harus menjadi ulama. Menulis bisa berarti menyampaikan kebaikan, mencatat ilmu, mengabadikan hikmah. Satu catatan kecil, jika ditulis dengan niat baik, bisa menjadi amal jariyah. Satu nasihat yang ditulis, lalu dibaca dan diamalkan, bisa menjadi saksi bahwa kita pernah mencoba memberi makna. 

Maka tugas kita hari ini adalah: gunakan mata untuk membaca kebaikan. Gunakan telinga untuk menyimak hikmah. Gunakan hati untuk merenung dan menulis.

Akan datang hari di mana tangan akan berkata, dan tinta akan menjadi saksi. Hari ketika buku catatan dibuka, dan tidak satu huruf pun terlewatkan. 

Saat itu, bukan seberapa banyak yang kita baca, tapi apa yang kita lakukan dengan apa yang kita baca. Bukan seberapa sering kita mendengar, tapi apakah suara itu pernah menyentuh hati kita. Dan, bukan seberapa banyak kita menulis, tapi apakah tulisan itu mendekatkan kita dan orang lain kepada Allah.

Ibnul Qayyim telah menulis. Dan, tulisan itu masih hidup hingga kini. Kini giliran kita bertanya: akankah ada yang membaca tinta kita setelah kita mati?.

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawaban." (QS. Al-Isra': 36).


(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)