Penulis: Ahmad Firdaus |
Para ulama terdahulu tidak menginginkan seorang Muslim hanya pandai mengeja huruf-huruf al-Qur'an, tetapi tidak memahami bacaan yang akan ia baca dalam salat setiap hari.
Karena itu, dalam banyak tradisi pengajaran al-Qur'an, termasuk metode Baghdadiyah, setelah murid mengenal huruf hijaiyah dan mulai mampu membaca, guru segera mengajarkan surah al-Fatihah.
Hal ini bukan tanpa alasan. Al-Fatihah adalah surah pertama dalam mushaf. Ia juga bacaan wajib dalam setiap rakaat salat dan ringkasan seluruh isi al-Qur'an.
Doa yang paling sering dipanjatkan seorang Muslim adalah al-Fatihah. Pondasi akidah, ibadah, dan akhlak juga adalah al-Fatihah.
Dengan mempelajari al-Fatihah sejak awal, seorang murid tidak hanya belajar membaca, tetapi juga belajar mengenal Allah, memuji-Nya, beribadah kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah kepada-Nya.
Mengapa Al-Fatihah Didahulukan?
Ada beberapa hikmah besar mendahulukan belajar al-Fatihah.
1. Al-Fatihah adalah bacaan salat.
Tidak ada surah lain yang diwajibkan dibaca dalam setiap rakaat selain al-Fatihah. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab." Maka, mengajarkan al-Fatihah berarti mempersiapkan seseorang untuk menegakkan salat dengan benar.
2. Al-Fatihah adalah induk Al-Qur'an.
Seluruh kandungan al-Qur'an kembali kepada tujuh ayat ini. Di dalamnya terdapat: tauhid, ibadah, doa, hidayah, kisah manusia, jalan keselamatan, dan jalan kebinasaan.
Karena itu, siapa yang memahami al-Fatihah sesungguhnya telah membuka pintu memahami Al-Qur'an.
3. Al-Fatihah memperkenalkan Allah.
4. Pelajaran pertama dalam al-Qur'an bukan tentang hukum, melainkan tentang Allah. Surat ini diawali dengan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ, kemudian الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. Artinya, sebelum seorang Muslim mengenal halal dan haram, ia harus terlebih dahulu mengenal Rabb-nya.
5. Pendidikan doa dimulai dari al-Fatihah.
Doa terbesar dalam al-Qur'an adalah: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (tunjukilah kami ke jalan yang lurus). Setiap hari seorang Muslim mengulanginya berkali-kali. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan terbesar manusia bukanlah harta, jabatan, atau kesehatan, melainkan hidayah.
Tradisi yang Perlu Dihidupkan
Di banyak tempat, pembelajaran al-Qur'an berhenti pada kemampuan membaca. Anak-anak telah khatam membaca, tetapi belum memahami al-Fatihah yang mereka baca setiap hari.
Sudah saatnya tradisi ulama terdahulu dihidupkan kembali, yakni belajar membaca, menghafal al-Fatihah, memahami artinya, mengetahui tafsirnya, dan mengamalkan kandungannya. Dengan demikian, al-Qur'an tidak hanya dibaca oleh lisan, tetapi juga diresapi oleh hati dan diwujudkan dalam amal.
Gagasan Baru: Lomba Al-Fatihah
Sebagaimana banyak perlombaan tilawah, tahfiz, kaligrafi, dan tafsir, sudah saatnya lahir lomba al-Fatihah yang menggabungkan pemahaman dan pengamalan.
Materi lomba dapat meliputi: (1) Membaca al-Fatihah dengan tajwid yang benar. (2) Menghafal al-Fatihah. (3) Menulis al-Fatihah tanpa melihat mushaf. (4) Menulis terjemahannya. (5) Menjelaskan nama-nama Al-Fatihah. (6) Menjelaskan kandungan setiap ayat. (7) Menjawab soal seputar al-Fatihah. (8) Menjelaskan hikmah basmalah. (8) Menjelaskan hubungan al-Fatihah dengan seluruh isi al-Qur'an.
(9) Menyampaikan tadabbur al-Fatihah dalam kehidupan sehari-hari.
Jika al-Fatihah benar-benar menjadi pelajaran pertama setiap Muslim, maka generasi yang lahir bukan hanya generasi yang pandai membaca al-Qur'an, tetapi juga generasi yang mengenal Rabb-nya, mencintai ibadah, dan menjadikan al-Qur'an sebagai petunjuk hidup.
Mulailah pendidikan al-Qur'an dari al-Fatihah, karena di sanalah Allah Ta'ala pertama kali memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya, dan di sanalah seorang hamba pertama kali diajarkan bagaimana berdoa kepada Rabb-nya.
(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2917-2022)
