Rabu, 17 Juni 2026

Indonesia di Persimpangan: Tumbuh di Angka, Goyah di Rasa

Penulis: Himayatul Islami |

Kalau dibayangin kayak orang lagi jalan, Indonesia sekarang ini pas banget ada di persimpangan. Di satu sisi, ada jalan yang ditunjukin sama data: ekonomi tumbuh, proyek-proyek besar jalan terus, klaim keberhasilan di mana-mana. Di sisi lain, ada jalan yang ditunjukin sama rasa orang-orang di lapangan: dompet makin tipis, harga naik, dan rasa percaya yang mulai goyah. 

Masalahnya, dua jalan ini kelihatan beda arah, dan negara cepat atau lambat harus mutusin mau lewat mana.

Coba lihat dari sisi angka dulu. Awal tahun ini ekonomi tumbuh di atas 5 persen, lumayan oke buat ukuran negara berkembang. 

Tapi persis di simpangan ini juga, rupiah malah melemah parah, sempat nyentuh titik paling lemah sepanjang sejarah sekitar Rp17.300 sampai Rp17.500 per dolar AS di bulan April-Mei. Efeknya nyambung ke inflasi yang ikut naik ke sekitar 3 persen, jumlah yang kedengarannya kecil tapi kerasa banget kalau udah belanja kebutuhan harian.

Nah, di persimpangan yang sama itu, muncul jalan satunya: jalan yang dipilih anak muda buat nunjukin ketidakpuasan mereka. Pertengahan Juni lalu, mahasiswa dari berbagai kampus, termasuk Universitas Indonesia, turun ke Bundaran HI buat demo. Tuntutan mereka jelas: setop pemborosan anggaran negara, turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, stop libatin tentara ke urusan sipil, dan minta pemerintah ngaku kalau ada yang salah.

Pemerintah sendiri kelihatannya mau tetap di jalan yang udah dipilih dari awal. Presiden Prabowo Subianto bilang situasi negara masih terkendali, dan sempat nyebut narasi pesimis di media sosial, kayak gerakan "Indonesia Gelap", didanai pihak yang katanya nggak mau negara ini stabil. Ada yang setuju sama pandangan ini, tapi ada juga yang ngeliatnya sebagai cara buat bikin kritik kelihatan nggak valid.

Belum lagi, beberapa lembaga pemantau HAM mulai angkat suara soal makin seringnya tindakan keras ke orang-orang yang vokal, dari pembubaran kegiatan masyarakat sampai pelibatan aparat di hal-hal yang dulu murni urusan sipil. Tapi buat sebagian orang, ketegasan kayak ini dianggap perlu, terutama biar agenda besar kayak hilirisasi tetap jalan tanpa banyak gangguan.

Jadi balik lagi ke gambaran persimpangan itu. Indonesia sekarang nggak lagi cuma soal "ekonomi tumbuh atau nggak", tapi soal jalan mana yang mau diambil ke depan: terus ngejar angka pertumbuhan dengan cara yang sama, atau mulai dengerin keluhan yang makin kedengeran dari jalanan. Dan kayak orang yang lagi di persimpangan, makin lama mikirnya, makin besar juga risiko dua jalan itu jalan sendiri-sendiri tanpa pernah ketemu titik tengah.

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)