Sabtu, 04 Juli 2026

Muslim Ideal, Piala Dunia, dan Pilihan Prioritas

Penulis: Ahmad Firdaus |

Piala Dunia adalah ajang olah raga terbesar di dunia. Hukum asal olah raga dan menontonnya adalah mubah selama tidak mengandung perkara yang diharamkan dan tidak melalaikan kewajiban. Namun, bagi seorang muslim, pertanyaan terpenting bukanlah "bolehkah?", melainkan "apa yang menjadi prioritas hidup kita?"

Ilustrasi oleh Pixabay.com

Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (Al-An'am: 162)

Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh kehidupan seorang Mukmin harus berporos kepada Allah, termasuk cara ia menggunakan waktu luangnya.

Banyak di antara kita sejak SD hingga SMA begitu mencintai sebuah tim nasional. Ada yang selalu mendukung Argentina, Brasil, Jerman, atau tim lainnya. Hafal nama-nama pemainnya, mengetahui jadwal pertandingannya, bahkan rela begadang demi menyaksikan satu pertandingan.

Namun, ketika Allah Ta'ala memberikan hidayah untuk aktif dalam dakwah, perlahan orientasi itu berubah. Bukan karena membenci sepak bola, tetapi karena cinta yang lebih besar telah memenuhi hati.

Jika dahulu rela begadang demi final Piala Dunia, kini muncul pertanyaan, "Sudahkah aku pernah begadang untuk al-Qur'an, ilmu, atau memikirkan nasib umat?"

Jika dahulu hafal statistik pemain, kini muncul keinginan untuk menghafal ayat-ayat Allah dan hadis-hadis Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda, "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang." (Riwayat Al-Bukhari).

Beliau juga bersabda, "Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya." (Riwayat At-Tirmidzi).

Ketika Prioritas  Berbeda

Generasi sahabat juga memiliki kesempatan menikmati berbagai hiburan yang mubah. Namun, ketika panggilan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya datang, mereka segera mendahulukannya.

Abu Bakar ash-Shiddiq menginfakkan hampir seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Yang beliau pikirkan bukan bagaimana menjadi orang paling terkenal, tetapi bagaimana agama Allah tegak.

Umar ibn al-Khattab berlomba dalam amal saleh, bukan berlomba mengejar popularitas dunia.

Utsman ibn Affan membeli Sumur Ruma agar dapat dimanfaatkan kaum Muslim dan membiayai Ekspedisi Tabuk dengan hartanya.

Ali ibn Abi Thalib rela mempertaruhkan nyawa saat tidur di tempat Rasulullah SAW pada malam hijrah.

Sementara sahabat miskin seperti Julaibib tidak dikenal manusia, tetapi dikenal oleh Allah dan Rasul-Nya karena pengorbanannya. Setelah syahid, Rasulullah SAW bersabda, "Dia bagian dariku dan aku bagian darinya."

Kemuliaan mereka bukan karena banyaknya penonton, tetapi karena besarnya pengorbanan.

Renungan Hari Ini

Hari ini jutaan orang mengetahui jadwal Piala Dunia, tetapi hanya sedikit yang mengetahui jadwal kajian di masjidnya.

Jutaan orang hafal susunan pemain tim favoritnya, tetapi belum hafal surat-surat pendek al-Qur'an.

Jutaan orang rela membeli jersey mahal, tetapi berat menyisihkan harta untuk dakwah, Rumah Qur'an, atau membantu fakir miskin.

Bahkan kemenangan sebuah negara bisa dirayakan semalam suntuk, sementara berdirinya sebuah Rumah Qur'an yang melahirkan puluhan generasi penghafal al-Qur'an hampir tidak terdengar gaungnya.

Bukan berarti sepak bola harus dimusuhi. Yang perlu diperbaiki adalah skala prioritas.

Nasihat Ulama

Ibn al-Qayyim berkata, "Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena kematian hanya memutusmu dari dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutusmu dari Allah dan akhirat."

Hasan al-Bashri berkata, "Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berkurang pula bagian dari dirimu."

Kalimat-kalimat ini mengingatkan bahwa umur jauh lebih berharga daripada sekadar hiburan yang akan berlalu.

Piala Dunia hanya berlangsung beberapa pekan. Trofinya berpindah dari satu negara ke negara lain. Sorak-sorai akhirnya akan berhenti.

Namun, amal saleh, dakwah, sedekah, ilmu yang bermanfaat, dan al-Qur'an akan terus menemani seseorang hingga ke alam kubur.

Karena itu, pertanyaan yang paling layak kita renungkan bukanlah, "Siapa yang akan mengangkat trofi Piala Dunia?" Tetapi, "Apa yang akan kita bawa ketika Allah mengangkat ruh kita?"

Itulah kemenangan yang hakiki, sebagaimana firman Allah, "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah memperoleh kemenangan." (Ali 'Imran: 185).

Renungkanlah lagi! ***

(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2917-2022)