Sabtu, 08 Agustus 2026

FOMO Mengendalikan Hidup Kita

PenulisAnisa Rohmah |

Sebuah artikel dari Halodoc menjelaskan FOMO (Fear of Missing Out) adalah perasaan cemas, takut, atau tidak nyaman karena merasa tertinggal dari tren, pengalaman, atau informasi populer yang dinikmati orang lain. 

Fenomena ini sering dipicu oleh penggunaan media sosial, di mana seseorang merasa hidup orang lain lebih menarik, memicu kebutuhan untuk selalu terhubung dan ikut-ikutan.

Femonema FOMO ini marak terjadi di kalangan gen z, dengan dipicu oleh media sosial yang tak pernah lepas dari kehidupan sehari hari. Trend yang sedang viral kerap kali menjadi sebuah patokan serta kewajiban yang harus diikuti, secara otomatis orang-orang mengikutinya seakan jika tidak mengikutinya itu akan menjadi hal yang aneh dan tertinggal. 

Apakah gaya hidup seperti ini yang harus kita Jalani? Tentunya tidak, setiap manusia mempunyai wewenang untuk memilih gaya hidup yang dijalaninya. Karenanya tidak perlu merasa tertinggal ataupun sendirian Ketika kita tidak mengikuti trend-trend yang ada di media sosial.

Lalu muncul pertanyaan: bagaimana agar kita tidak terjebak FOMO? Pertama, yang harus kita lakukan adalah membatasi penggunaan media sosial. Gunakan media sosial sesuai dengan kebutuhan kita. Fokuslah pada kehidupan yang kita jalani. 

Kedua, bersyukur atas segala hal yang kita miliki dalam hidup ini. Ketika kita bersyukur maka kita akan senantiasa merasa cukup dengan apa yang kita miliki tanpa merasa iri dengan kehidupan orang lain. Dengan bersyukur kita tidak akan merasa tertinggal dan terbelakang. 

Dalam surah Al-Baqarah ayat 152 disebutkan:

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

Di era gempuran media sosial, serta trend-trend yang mudah sekali tersebar kedalam kehidupan ini, penting untuk menjaga iman dan ketaatan dengan senantiasa bersyukur kepada Allah, agar tidak terjebak FOMO terhadap gaya hidup orang lain di media sosial. ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M. Natsir, Jakarta)