Selasa, 11 Agustus 2026

Garis Finis Itu Bukan Dunia

Penulis: Himayatul Islami |

Sejak kecil kita diajarin untuk berlari. Katanya hidup itu lomba, siapa cepat dia dapat. Maka kita bangun pagi-pagi, mengejar absen, mengejar target, mengejar gaji, mengejar validasi dari orang-orang yang bahkan tidak peduli kalau kita jatuh. Kita berlari sampai lupa caranya berhenti, sampai lupa rasanya tenang. Karena dunia menanamkan rumus yang kejam “Kalau kamu diam, kamu kalah.”

Aku pernah ada di titik itu. Titik di mana semua yang dikejar terasa hampa. Lelahnya sampai ke tulang, tapi hati tetap kosong. Dapat satu, mau dua. Dapat dua, iri sama yang punya sepuluh. Garis finish-nya nggak pernah kelihatan, karena setiap kali hampir sampai, dunia geser lagi garisnya lebih jauh. Ternyata capek yang paling nyakitin bukan capek badan, tapi capek hati yang nggak pernah bilang cukup.

Sampai akhirnya Allah menegur lewat satu ayat yang rasanya kayak dipeluk, "Maka berlarilah kembali kepada Allah" (Adz-Dzariyat: 50). Ayat itu nggak nyuruh kita berhenti lari. Allah nggak melarang kita punya mimpi, kerja keras, atau pengen hidup layak. Tapi Allah lurusin arah lari kita. Selama ini kita berlari menjauh, padahal obat dari semua lelah itu adalah berlari pulang.

Berpacu kepada Allah itu rasanya beda. Kita tetap bangun pagi, tetap kerja, tetap berjuang. Tapi niatnya bukan lagi buat nunjukin ke manusia. Kita kerja supaya ada rezeki halal yang bisa dibagi. Kita belajar supaya ilmu itu jadi penerang, bukan bahan kesombongan. Kita jatuh, tapi jatuhnya nggak ke jurang putus asa, melainkan ke sajadah sambil bilang, "Ya Allah, aku capek, tapi aku percaya Engkau nggak ninggalin aku."

Saat pacu kita arahnya ke Allah, definisi menang dan kalah jadi berubah total. Gagal dalam bisnis nggak lantas bikin kita merasa hina, karena kita tahu Allah sedang jaga kita dari sesuatu yang buruk. Sukses besar nggak bikin kita jumawa, karena kita sadar itu semua titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Hati jadi tenang meski dompet belum tebal, karena kita yakin jatah rezeki nggak akan pernah tertukar. Yang kita kejar bukan lagi tepuk tangan manusia, tapi tatapan ridha dari Pemilik Langit.

Lambat laun aku sadar, kita semua ini sedang lomba. Bedanya cuma satu: ada yang finish-nya dunia, ada yang finish-nya Allah. Yang finish-nya dunia, dia akan terus berlari sampai mati tanpa pernah merasa sampai. Yang finish-nya Allah, dia mungkin jalannya pelan, kadang tertatih, kadang jatuh, tapi setiap langkahnya dihitung pahala dan setiap lelahnya dibayar dengan surga.

Jadi sebelum hari ini kamu mulai berlari lagi, coba tanya ke hati kecilmu: "Aku lari buat siapa?" Kalau jawabannya masih buat manusia, mungkin sudah saatnya kita belok arah. Nggak ada kata telat untuk pulang. Karena di ujung jalan itu, Allah nggak pernah pindah. Dia tetap di sana, menunggu dengan ampunan yang luasnya seluas langit dan bumi. *

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)