Penulis: Husniyatun Amirah Azizah |
Di tengah hiruk-pikuk pencapaian, sanjungan orang lain, dan gelar yang kita sandang, terkadang kita lupa bahwa kita ini hanyalah bagian kecil dari sebuah semesta yang luas.
Kita sering merasa besar dan tak tergantikan, padahal ada kekuatan lain yang mampu mengubah segalanya dalam sekejap.
Allah ta'ala berfirman dalam al-Qur'an surat Al-Kahf ayat 8:
وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا
"Dan kami benar-benar akan menjadikan (pula) apq yang diatasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering"
Ayat itu menunjukkan lewat dua kata bagaimana bagaimana Allah mampu mengubah kehidupan di atas tanah kembali menjadi tanah yang kering tak bernyawa dan tak berarti.
Allah mampu, lewat proses penciptaan yang panjang, menempatkan begitu banyak kehidupan, nyawa, dan keindahan di atas bumi.
Namun, Allah juga yang kelak mengubah semua keindahan itu menjadi debu (sa'iid) dan tak bernyawa (juruza).
Kalau gunung yang tinggi dan besar saja mampu Allah kembalikan ke tanah, siapalah kita yang bisa merasa tinggi? Semua yang hari ini bisa kita banggakan, rumah, harta, gelar, dan juga kecantikan, pada akhirnya akan kadaluarsa dan kembali ke asalnya, yaitu tanah.
Kalau kita akan kembali menjadi debu maka apa yang kita miliki juga akan hilang bersama debu-debu yang berterbangan itu.
Ingat dunia itu besar dan luas. Ribuan tahun sebelum kita lahir, dunia ini sudah tercipta dengan segala isinya. Dan, kita cuma titik-titik debu yang singgah sejenak untuk menjalankan perintah lalu kembali ke tanah.
Ketika sudah diingatkan hal seperti ini apakah kita masih mau menyombongkan diri?
Lihatlah pohon yang berbuah lebat. Dia semakin merunduk saat buahnya itu tumbuh. Lihatlah samudra yang dalam, dia selalu berada di posisi paling bawah untuk menampung air dari segala penjuru.
Orang hebat itu tidak perlu menyatakan dirinya hebat. Dunialah yang akan mengakuinya. Jangan merasa tinggi, karena gunung yang kokoh saja bisa Allah ratakan menjadi tanah yang kering.
Tanpa kita sadari, ketika kita mengakui diri kita itu "kecil", hati malahan terasa lebih ringan. Tidak ada lagi beban untuk tampil hebat. Tidak lagi sibuk mencari pengakuan. Hidup menjadi lebih ringan karena kita menebar manfaat, bukan menebar citra.
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)