Penulis: Eka susilawati |
Di zaman yang penuh fitnah ini, setiap orang mulai berlomba-lomba melakukan kebaikan seperti mengikuti majlis ilmu. Namun, di sisi lain, masih banyak orang yang terus menerus melakukan amalan-amalan yang tidak baik, bahkan merusak. Mengapa demikian?
Sebab, semua itu bermula dari tindakan-tindakan kecil yang di anggap sepele oleh masyarakat. Mereka merasa semuanya aman, kemudian perlahan menjadi tindakan yang tidak sesuai dengan aturan dan syari’at Islam.
Seseorang mungkin merasa tidak melakukan dosa besar, tetapi hari-harinya dipenuhi kebiasaan ringan seperti berkata tidak jujur, menunda kewajiban, atau berkomentar negatif di media sosial. Hanya sebentar dan semua itu tampak sepele, cepat dilupakan, dan sering dianggap bukan masalah. Namun, di situlah letak peringatannya.
Awalnya dosa kecil itu seperti tetesan air. tidak terasa jatuh satu per satu, Tetapi jika terus menerus akan memenuhi ember.
Dalam kehidupan sekarang, hal semacam ini bahkan lebih kuat dari teknologi, membuat dosa kecil menjadi lebih mudah dilakukan, lebih sering diulang, dan kadang berdampak ke banyak orang.
Oleh karena itu, setiap Muslim dianjurkan untuk selalu mengintropeksi diri dan berhati-hai dalam setiap tindakan. Karena setiap tindakan seorang hamba pasti akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.
Sebagaimana dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu’anha berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Aisyah, hati-hati terhadap amal perbuatanmu yang sepele (dianggap dosa kecil), karena di sisi Allah hal tersebut akan di tanya.” (Riwayat Ibnu Majah)
Dalam Islam, dosa tidak hanya yang besar seperti mencuri atau berbohong, tetapi juga hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Tidak ada perbuatan yang benar-benar kecil di hadapa Allah jika dilakukan terus menerus dan di anggap remeh. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)