Sabtu, 08 Agustus 2026

Perjalanan Dakwah ke Jorong Tantaman

Penulis: Despita |

Perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan langkah kecil dalam membawa kebaikan. Ia bukan perjalanan biasa, tetapi sebuah amanah yang harus ditunaikan. 

Kami menempuh jarak yang panjang, melewati jalan yang longsor dan licin demi sampai ke lokasi kafilah dakwah. Waktu tempuh sekitar tiga hingga empat jam menjadi bukti bahwa perjalanan ini penuh dengan tantangan dan pengorbanan.

Perjalanan ini menjadi saksi bahwa dakwah tidaklah mudah; ia membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Di tempat inilah kami melaksanakan berbagai kegiatan, menyampaikan kebaikan, sekaligus belajar bersama masyarakat.

Awalnya, saya menganggap program kafilah dakwah STID Muhammad Natsir ini sebagai sebuah beban. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa di balik lelah dan sulitnya perjalanan, tersimpan banyak pelajaran berharga yang tak ternilai. Setiap langkah yang kami tempuh seakan mengajarkan arti kesabaran, dan setiap pertemuan dengan masyarakat menjadi pelajaran tentang keikhlasan dan ketulusan.

Di Jorong Tantaman, Kecamata Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar, SUmatera Barat yang merupakan salah satu daerah terdampak bencana, kami melihat secara langsung bagaimana masyarakat berjuang bangkit dari keterpurukan. Sebagian warganya mengalami kehilangan, baik harta benda maupun orang-orang tercinta. 

Tidak sedikit rumah yang rusak, dan ada pula keluarga yang harus memulai kembali dari nol. Suasana duka masih terasa, terpancar dari wajah-wajah yang berusaha tegar meski menyimpan luka yang dalam.

Ada momen-momen yang begitu menyentuh hati, ketika kami melihat anak-anak yang tetap berusaha tersenyum di tengah keterbatasan. Tawa mereka terdengar sederhana, namun di balik itu tersimpan cerita yang tidak mudah. Ada rindu yang belum sempat terucap, ada kehilangan yang masih mereka rasakan, namun mereka tetap berusaha kuat dengan cara mereka sendiri.

Keterbatasan yang ada tidak membuat mereka kehilangan harapan. Justru di tengah kondisi tersebut, kami menyaksikan semangat hidup yang begitu besar. Dari mereka, kami belajar tentang arti kesabaran yang sesungguhnya, tentang keteguhan hati, dan tentang bagaimana tetap bersyukur meski dalam keadaan sulit. Hati ini terasa tersentuh, seakan diingatkan bahwa nikmat yang sering kita anggap biasa ternyata begitu berarti bagi mereka.

Kehadiran kami di Jorong Tantaman diharapkan dapat menjadi penguat sekaligus penghibur bagi masyarakat. Melalui berbagai kegiatan yang kami laksanakan, seperti pesantren kilat, pawai obor, tadarus, pembagian Al-Qur’an, serta penyaluran fidyah, semoga dapat menghadirkan sedikit kebahagiaan di tengah duka yang mereka rasakan.

Kami berharap, melalui kegiatan-kegiatan ini, masyarakat terutama anak-anak dapat kembali tersenyum, melupakan sejenak kesedihan, serta menumbuhkan kembali semangat dan harapan dalam menjalani kehidupan ke depan. Tawa mereka menjadi pengingat bahwa harapan itu masih ada, dan masa depan tetap bisa diperjuangkan.

Perjalanan dakwah saya di Jorong Tantaman memberikan begitu banyak pelajaran berharga. Saya menyadari bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang belajar dari masyarakat. Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa menjadi seorang pendakwah bukanlah hal yang mudah, melainkan membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kemauan untuk terus belajar.

Lebih dari itu, perjalanan ini juga mengajarkan arti kebersamaan. Kami saling menguatkan satu sama lain dalam setiap kesulitan yang dihadapi, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling mendukung agar tetap istiqamah dalam menjalankan amanah. Kebersamaan ini menjadi kekuatan yang membuat perjalanan terasa lebih ringan untuk dilalui.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang apa yang kami berikan, tetapi juga tentang apa yang kami terima. Bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang belajar. Bukan hanya tentang menguatkan, tetapi juga tentang dikuatkan. Dan bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati yang membawa kami lebih dekat kepada makna keikhlasan dan pengabdian.

Semoga setiap langkah dalam perjalanan ini bernilai ibadah, setiap lelah menjadi pahala, dan setiap air mata yang jatuh menjadi saksi atas perjuangan ini, serta setiap kebaikan yang ditanamkan dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat, tidak hanya bagi masyarakat Jorong Tantaman, tetapi juga bagi diri kami sendiri di masa yang akan datang. ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)