Penulis: Ahmad Firdaus |
Musuh Islam tidak selalu harus membuat umat ini mabuk, berzina, berjudi, atau meninggalkan agama. Mereka cukup membuat umat ini sibuk dengan perkara yang mubah hingga lupa pada perkara yang mulia. Inilah jebakan yang paling halus.
Setan tidak selalu berkata, "Tinggalkan shalat." Ia lebih sering membisikkan, "Nanti saja, setelah pertandingan selesai."
Setan tidak selalu berkata, "Jangan baca al-Qur'an." Ia cukup membuat kita berkata, "Besok saja, sekarang masih ada hiburan."
Akhirnya, bukan karena mencintai yang haram, tetapi karena terlalu tenggelam dalam perkara yang mubah, hati menjadi keras dan amal saleh semakin sedikit.
Allah Ta'ala berfirman, "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (At-Takatsur: 1–2)
Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang." (Riwayat al-Bukhari).
Coba perhatikan keadaan kita. Lapangan penuh setiap sore, tetapi saf pertama masjid sering kosong. Turnamen selalu mendapat sponsor, sementara Rumah Qur'an harus berjuang mencari biaya sewa.
Piala disambut meriah, tetapi anak yang hafal al-Qur'an sering pulang tanpa penghargaan. Media sosial dipenuhi berita transfer pemain, tetapi ayat al-Qur'an dan hadis hanya sesekali lewat di beranda.
Bukankah ini tanda bahwa prioritas kita telah bergeser?
Islam tidak melarang olah raga. Islam tidak mengharamkan hiburan yang halal. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang mubah tidak boleh mengalahkan yang wajib, tidak boleh menggeser yang sunnah, dan tidak boleh memadamkan semangat dakwah.
Ibn al-Qayyim berkata bahwa menyia-nyiakan waktu lebih berat dari pada kematian, karena kematian hanya memutus hubungan dengan dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutus hubungan dengan Allah dan negeri akhirat.
Hari ini banyak orang berkata, "Yang penting tidak maksiat." Padahal seorang mukmin tidak hanya dituntut meninggalkan yang haram. Ia juga dituntut memilih yang paling dicintai Allah.
Perkara mubah ibarat air. Sedikit menyegarkan, tetapi jika tidak dikendalikan dapat menenggelamkan.
Mari bertanya kepada diri sendiri, berapa jam kita habiskan untuk hiburan setiap pekan, dan berapa jam untuk al-Qur'an? Berapa dana untuk kesenangan, dan berapa dana untuk dakwah? Berapa semangat mendukung tim favorit, dan berapa semangat mendukung agama Allah?
Jawaban atas pertanyaan itu sering kali menunjukkan siapa yang sebenarnya paling kita cintai.
Umat ini tidak akan bangkit hanya dengan memperbanyak hiburan. Umat ini bangkit ketika al-Qur'an kembali menjadi pusat kehidupan, masjid kembali ramai, majelis ilmu dipenuhi, dan dakwah menjadi kebanggaan.
Jangan biarkan perkara yang mubah mencuri umur kita, mematikan semangat ibadah, dan menggeser kecintaan kepada al-Qur'an. Sebab yang paling berbahaya bukan hanya dosa yang jelas, tetapi kelalaian yang terasa biasa. ***
(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)
