Di sebuah gang tenang di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, berdiri sebuah kampus yang tidak pernah tampil mencolok di papan reklame atau ramai diperbincangkan di linimasa media sosial. Namanya Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir.
Namun jangan salah menilai dari ukurannya yang mungil. Dari ruang-ruang kelasnya yang sederhana, lahir dai-dai yang kini berdakwah hingga ke pedalaman Mentawai, pulau-pulau terluar Aceh, hingga wilayah perbatasan yang jarang tersentuh lembaga dakwah lain.
Kampus ini berdiri resmi pada tahun 1999 di bawah naungan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), lembaga dakwah yang telah berkiprah sejak dekade 1960-an. Izin operasionalnya dikeluarkan Departemen Agama RI melalui Surat Keputusan Nomor 110 Tahun 2002.
Namun jauh sebelum surat izin itu terbit, cikal bakal kampus ini sudah tumbuh sejak lama, berawal dari program pelatihan dai tiga hingga enam bulan yang diselenggarakan Dewan Dakwah bagi santri-santri lulusan pesantren mitra.
Seiring waktu, pelatihan singkat itu berkembang menjadi Lembaga Pendidikan Da’wah Islam (LPDI) dengan masa belajar dua tahun. Barulah dalam Musyawarah Besar Dewan Dakwah kedua yang digelar pertengahan Juni 1998 di Jakarta, para pengurus memutuskan untuk menaikkan level pendidikan ini dari setingkat diploma menjadi program sarjana penuh. Dari keputusan itulah nama Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir resmi disematkan.
Nama Mohammad Natsir sendiri bukan sekadar simbol atau formalitas. Ia diabadikan sebagai penghormatan sekaligus harapan, agar semangat perjuangan sang tokoh dalam mendakwahkan Islam ilallah terus diwariskan lewat kampus ini. Perdana Menteri kedua Republik Indonesia itu memang dikenal luas bukan hanya sebagai negarawan, tapi juga sebagai perintis pendidikan tinggi Islam.
Seiring waktu, pelatihan singkat itu berkembang menjadi Lembaga Pendidikan Da’wah Islam (LPDI) dengan masa belajar dua tahun. Barulah dalam Musyawarah Besar Dewan Dakwah kedua yang digelar pertengahan Juni 1998 di Jakarta, para pengurus memutuskan untuk menaikkan level pendidikan ini dari setingkat diploma menjadi program sarjana penuh. Dari keputusan itulah nama Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir resmi disematkan.
Nama Mohammad Natsir sendiri bukan sekadar simbol atau formalitas. Ia diabadikan sebagai penghormatan sekaligus harapan, agar semangat perjuangan sang tokoh dalam mendakwahkan Islam ilallah terus diwariskan lewat kampus ini. Perdana Menteri kedua Republik Indonesia itu memang dikenal luas bukan hanya sebagai negarawan, tapi juga sebagai perintis pendidikan tinggi Islam.
Jauh sebelum STID berdiri, pada tahun 1937, Natsir muda telah menulis gagasan tentang perlunya umat Islam memiliki sekolah tinggi sendiri, gagasan yang kelak menjadi cikal bakal Sekolah Tinggi Islam dan turut membidani lahirnya Universitas Islam Indonesia.
Sejak awal berdiri, STID Mohammad Natsir membuka Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) sebagai program studi pertamanya. Program ini digagas untuk menjawab kebutuhan akan dai yang tidak hanya piawai berceramah di atas mimbar, tetapi juga cakap menyampaikan pesan dakwah lewat media massa, penyiaran, dan berbagai kanal komunikasi modern.
Belasan tahun kemudian, kampus ini membuka program studi kedua, yakni Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), yang mendapat izin operasional resmi pada April 2016. Kehadiran prodi ini didasari kesadaran bahwa dakwah tidak cukup disampaikan lewat kata-kata semata. Dakwah yang utuh, menurut para pengelola kampus, membutuhkan dai yang juga memahami cara memberdayakan ekonomi, pendidikan, dan struktur sosial masyarakat yang mereka layani.
Sejak awal berdiri, STID Mohammad Natsir membuka Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) sebagai program studi pertamanya. Program ini digagas untuk menjawab kebutuhan akan dai yang tidak hanya piawai berceramah di atas mimbar, tetapi juga cakap menyampaikan pesan dakwah lewat media massa, penyiaran, dan berbagai kanal komunikasi modern.
Belasan tahun kemudian, kampus ini membuka program studi kedua, yakni Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), yang mendapat izin operasional resmi pada April 2016. Kehadiran prodi ini didasari kesadaran bahwa dakwah tidak cukup disampaikan lewat kata-kata semata. Dakwah yang utuh, menurut para pengelola kampus, membutuhkan dai yang juga memahami cara memberdayakan ekonomi, pendidikan, dan struktur sosial masyarakat yang mereka layani.
Dua program studi ini pada akhirnya saling melengkapi: satu menyiapkan juru dakwah yang komunikatif, satu lagi menyiapkan penggerak masyarakat yang berpihak pada pemberdayaan umat.
Yang membuat STID Mohammad Natsir berbeda dari kebanyakan kampus dakwah lainnya adalah orientasi alumninya. Mahasiswa di sini tidak disiapkan untuk berkarier di kota-kota besar semata, melainkan justru didorong untuk mengabdi ke wilayah-wilayah minim dakwah: pedalaman, perbatasan, kantong-kantong minoritas muslim, hingga permukiman suku terasing yang jarang dijangkau lembaga pendidikan lain.
Yang membuat STID Mohammad Natsir berbeda dari kebanyakan kampus dakwah lainnya adalah orientasi alumninya. Mahasiswa di sini tidak disiapkan untuk berkarier di kota-kota besar semata, melainkan justru didorong untuk mengabdi ke wilayah-wilayah minim dakwah: pedalaman, perbatasan, kantong-kantong minoritas muslim, hingga permukiman suku terasing yang jarang dijangkau lembaga pendidikan lain.
Untuk mendukung misi ini, Dewan Dakwah menyediakan skema beasiswa bagi mahasiswa yang bersedia mengabdi di wilayah-wilayah tersebut setelah lulus.
Pada Agustus 2024 lalu, kampus ini merayakan usianya yang ke-25 tahun dalam sebuah acara syukuran sederhana di Kantor Pusat Dewan Dakwah, Jakarta. Dalam acara itu, jejak alumni yang tersebar dari Sambas hingga Kepulauan Mentawai ditampilkan sebagai bukti bahwa kampus kecil ini telah menorehkan jejak yang tidak kecil.
Pada Agustus 2024 lalu, kampus ini merayakan usianya yang ke-25 tahun dalam sebuah acara syukuran sederhana di Kantor Pusat Dewan Dakwah, Jakarta. Dalam acara itu, jejak alumni yang tersebar dari Sambas hingga Kepulauan Mentawai ditampilkan sebagai bukti bahwa kampus kecil ini telah menorehkan jejak yang tidak kecil.
Salah satu alumninya bahkan kini menjabat sebagai kepala daerah, sementara puluhan lainnya telah menempuh pendidikan doktoral dan mengabdi sebagai pendidik maupun penggerak dakwah di berbagai pelosok Indonesia.
Berjalan di lorong-lorong STID Mohammad Natsir, seseorang tidak akan menemukan gedung menjulang atau fasilitas mewah sebagaimana kampus-kampus besar pada umumnya. Yang terasa justru suasana kekeluargaan khas pesantren, dipadu dengan disiplin akademik ala perguruan tinggi.
Berjalan di lorong-lorong STID Mohammad Natsir, seseorang tidak akan menemukan gedung menjulang atau fasilitas mewah sebagaimana kampus-kampus besar pada umumnya. Yang terasa justru suasana kekeluargaan khas pesantren, dipadu dengan disiplin akademik ala perguruan tinggi.
Mahasiswanya datang dari berbagai penjuru Nusantara, banyak di antaranya justru berasal dari daerah-daerah yang kelak akan mereka datangi kembali sebagai dai maupun penggerak masyarakat.
Dari sinilah kiranya dapat dipahami mengapa kampus ini menolak untuk sekadar besar dari sisi kuantitas mahasiswa, namun lebih memilih menjaga kualitas kaderisasi dai yang dihasilkannya. Filosofi ini pula yang tampaknya diwarisi langsung dari sosok Mohammad Natsir sendiri, yang semasa hidupnya senantiasa menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar rangkaian kata di atas mimbar, melainkan perjuangan nyata untuk memberdayakan umat, di mana pun umat itu berada, sesulit apa pun medan yang harus ditempuh untuk mencapainya.
Dari sinilah kiranya dapat dipahami mengapa kampus ini menolak untuk sekadar besar dari sisi kuantitas mahasiswa, namun lebih memilih menjaga kualitas kaderisasi dai yang dihasilkannya. Filosofi ini pula yang tampaknya diwarisi langsung dari sosok Mohammad Natsir sendiri, yang semasa hidupnya senantiasa menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar rangkaian kata di atas mimbar, melainkan perjuangan nyata untuk memberdayakan umat, di mana pun umat itu berada, sesulit apa pun medan yang harus ditempuh untuk mencapainya.
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)
