Kamis, 06 Agustus 2026

Saat Hati Nurani Kehilangan Arah

PenulisRatu Rif'aliah Darojat |

Hari itu menjadi hari yang tak pernah ia bayangkan dalam hidupnya, Siapa sangka seorang anak perempuan yang belum mengenal dunia, justru harus menerima perlakuan dunia yang begitu keras, dihadapkan dengan sebuah berita yang tak pernah mau ia dengar. 

Seorang anak perempuan yang selalu menanti kepulangan ayah dari kerjanya. Buah tangan yang dibawakan ayahnya tak pernah gagal membuat anak perempuannya jatuh cinta. Mungkin hanya sesuatu yang terlihat sederhana bagi anak-anak di luar sana. Tapi baginya, itu adalah hal-hal yang selalu dianggap istimewa. 

Ia tak pernah tahu bagaimana cara ayahnya bisa memenuhi kebutuhan keluarga setiap harinya. Bahkan, pada setiap keinginan yang tak sengaja terucap dari lisannya, selalu menjadi sesuatu yang diusahakan oleh ayahnya. 

Hari itu, ia tak sedang menunggu buah tangan dari ayahnya. Ia hanya menunggu kepulangan dan pelukan sang ayah setelah bekerja keras demi keluarga.

Sampai pada suatu hari yang terasa gelap telah menggambarkan suasana hatinya yang begitu hancur. Tubuh mungil anak perempuan bersikeras memeluk jasad seorang ayah yang sedang dibawa oleh kerumunan massa, tak lagi berdaya. Badan yang terbujur kaku, juga kain jarik yang menutupi sekujur tubuhnya, menjadi sebuah tanda bahwa sang ayah telah kembali pada Pencipta. 

Yang lebih menyakitkan adalah ketika suatu saat nanti perempuan mungil ini tumbuh dewasa dan ia mengerti cara dunia bekerja. Ia akan merasakan sesaknya sebuah kenyataan bahwa ayah yang telah dulu tiada adalah korban dari kekerasan anak-anak muda yang kehilangan arah.

Pak Sumarna adalah seorang satpam yang sedang menjalankan tugasnya. Beliau hanya berusaha menjalankan amanahnya dengan baik, mengamankan sesuatu yang terasa janggal dan meresahkan bagi masyarakat sekitar. 

Malam itu menjadi malam terakhir sang istri menemani beliau. Pada pukul 20.00, beliau masih sempat mengantarkan suaminya sampai lokasi tugas sebelum dinyatakan tak bisa dihubungi pada pukul 23.00. 

Sebagian orang tertuju pada sebuah kejadian saat beliau menegur sekelompok orang yang melakukan aksi vandalisme di area sekitar Tanggul Waduk Jatiluhur. Namun, ternyata anak-anak muda itu dikuasai oleh emosinya. Mereka memborgol tangan, mengikat kaki, juga menutup mulut Pak Sumarna dengan lakban, lalu menenggelamkannya di Waduk Jatiluhur.

Bagiku, tragedi yang menimpa Pak Sumarna tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga dan orang-orang disekitarnya, tapi juga meninggalkan pertanyaan besar bagi masyarakat luas tentang bagaimana mungkin sekelompok anak muda tega menghilangkan nyawa seseorang yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya. 

Peristiwa ini bukan hanya tentang aksi kriminal semata, tapi cerminan besar dari krisis moral yang semakin terlihat nyata. Bagaimana tidak, rasa empati memudar, hormat pada yang lebih tua hilang, dan pada akhirnya nyawa seseorang tak lagi dianggap berharga. Hal ini menandakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat sudah mulai kehilangan ruhnya. 

Kejadian ini menjadi refleksi bagi kita semua. Bagaimana caranya kita dapat menempatkan pendidikan akhlak, nilai-nilai kemanusiaan, dan rasa empati sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter generasi sebuah bangsa. 

Sebab, jika saja nilai-nilai kemanusiaan mulai hilang, moral runtuh, maka tidak hanya aturan-aturan hukum yang mereka langgar, tapi hati nurani manusia yang memiliki fitrah untuk melakukan kebaikan juga akan kehilangan arahnya.  ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)