Minggu, 27 September 2026

Ketika Dunia Bukan Lagi Menjadi Tujuan

Penulis: Khoirul Anam |

Di dalam kitab Zuhud karya Imam Ahmad Bin Hambal disebutkan sebuah riwayat sebagai berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: " اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ

“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat.”


Dalam riwayat yang lebih lengkap disebutkan:

اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ، فَأَكْرِمِ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَةَ

“Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. Maka muliakanlah kaum Anshar dan kaum Muhajirin.”

Riwayat ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari no. 3795 dan Shahih Muslim no. 1805. 

Menariknya, ada dua lafaz:

Pertama
اللَّهُمَّ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ*

“Ya Allah, sesungguhnya kehidupan adalah kehidupan akhirat.”

Kedua
اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ

“Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat.”

Keduanya sangat dekat maknanya. Nabi SAW sedang mengarahkan perhatian para sahabat dari kehidupan dunia yang sementara kepada kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Yang menarik adalah kalimat setelahnya:

فَأَكْرِمِ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَةَ

“Maka muliakanlah kaum Anshar dan kaum Muhajirin.”

Sehingga konteksnya bukan sekadar ungkapan tentang akhirat, tetapi juga doa Nabi SAW untuk orang-orang yang beriman dan berjuang di jalan Allah.

Ada sebuah pelajaran yang sangat indah: ketika seseorang menyadari bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, maka segala bentuk kelelahan, pengorbanan, dan kesulitan yang dialaminya di dunia akan menjadi ringan karena ia melihat hasil akhirnya yaitu surga, ampunan dan ridho Allah.

Karena itu, hadis ini sangat tepat ditempatkan dalam pembahasan zuhud oleh imam Ahmad: bukan berarti kita harus meninggalkan kehidupan dunia, tetapi maksudnya adalah agar kita tidak menjadikan kehidupan dunia ini sebagai tujuan akhir. Dunia adalah tempat beramal; akhirat adalah tempat kehidupan yang kekal.*


(Penulis adalah dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Quran dan Tafsir di Hidayatullah Medan)