Senin, 12 September 2022

Belajar Tabah dari Kisah 'Urwah bin Zubeir

Penulis: Agesti Ita Purnamasari |

Pernahkah kalian membaca atau mendengar kisah 'Urwah bin Zubeir? Asingkah di telinga kalian mendengar nama itu? Siapakah dia? Yuk kita cari tahu!

'Urwah bin Zubair termasuk tabiin yang amat gemar membaca al-Qur'an. Dalam sehari beliau menghatamkan seperempat isi al-Qur'an. (foto ilustrasi Pixabay)

'Urwah bin Zubeir tokoh yang dikelilingi tokoh-tokoh pilihan pada zamannya. Loh kok bisa? Ya, ayahnya bernama Zubeir bin Awwam, pembela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (saw). Zubeir juga termasuk satu dari sepuluh sahabat yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah saw. 

'Urwah meniliki saudara kandung bernama 'Abdullah bin Zubeir. Beliau adalah pahlawan Islam. Saat Rasulullah saw masih hidup, 'Abdullah  termasuk sahabat kecil beliau, sekaligus seorang yang alim.

Namun 'Urwah tak seberuntung kakaknya. Bila kakaknya sempat melihat Rasulullah saw dan mendapat gelar kebanggan sebagai 'shahaby (sahabat Rasulullah saw), maka tidak demikian dengan 'Urwah. Maklumlah, umur beliau dengan kakaknya terpaut 20 tahun.  Karena itu, 'Urwah tergolong tabi'in. Namun, tabi'in-nya bukan tabi'in sembarangan. Beliau adalah tokohnya para tabi'in.

'Urwah termasuk salah satu dari tujuh fuqaha (ulama) Madinah yang terkenal karena ilmunya, zuhudnya, dan ketakwaannya. Beliaulah yang menjadi penasehat pribadi 'Umar bin 'Abdul 'Aziz ketika menjabat sebagai gubernur Madinah.


'Urwah bin Zubeir lahir dari rahim seorang shahabiah bernama 'Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq. Ya, sang ibunda tentu tak asing lagi bagi kita. Beliau adalah putri sahabat utama Abu Bakar Ash Shidiq. 

Semasa kecil hingga besar 'Urwah hidup dalam lingkungan yang sangat baik. Di lingkungan itulah ilmunya berkembang, ketakwaannya terjaga, dan akhlaknya mulia. Tentu ini semua tak luput dari keberkahan sang kakek, Abu Bakar Ash-Shidiq.

Bibi 'Urwah juga termasuk Ummul Mukminin. Beliau adalah 'Aisyah, nama yang juga tak asing di telinga kita. Beliau wanita paling brillian, memiliki ilmu yang tinggi, dan banyak meriwayatkan hadits Rasulullah saw.

Luar biasa 'Urwah bin Zubeir ini. Seakan-akan Allah Ta'ala ingin mengumpulkan keberkahan yang banyak dalam diri beliau, sebagaimana dikatakan oleh 'Abdillah al-'Ijly, "Urwah bin Zubeir adalah lelaki shaleh yang tak pernah terlibat dalam fitnah apapun."

Qabishah bin Dzuaib juga berkata, "Dahulu aku dan Abu Bakar bin 'Abdurrahman bermajelis dengan Abu Hurairah. Namun 'Urwah mengalahkan kami. Sebab, 'Urwah bermajelis dengan 'Aisyah, manusia  paling alim."

'Urwah menghafal banyak hadits dari ayahnya. Beliau juga paling rajin berpuasa, bahkan ketika ajalnya menjemput, 'Urwah dalam keadaan berpuasa. 

Beliau menghatamkan seperempat al-Qur'an setiap harinya. Beliau selalu bangun malam dan tak pernah meninggalkannya kecuali sekali saja, yakni pada malam ketika kakinya diamputasi.

Mengapa harus diamputasi? Saat itu para dokter kewalahan mengobati kangker kulit yang dideritanya. Penyakit itu sudah menjalar dari kaki hingga betis. Bahkan kakinya sudah membusuk.Para dokter khawatir jika dibiarkan akan menyebar ke seluruh tubuh. Maka, tak ada jalan lain kecuali diamputasi. 

Dengan lemah lembut dokter itu menawarkan kepada 'Urwah untuk meminum khamar, yakni air yang memabukkan sehingga membuat tak sadar diri. Ini tak lain agar 'Urwah tak merasa kesakitan saat diamputasi.


Apa jawaban 'Urwah? "Tak pantas rasanya bila aku meminum barang haram sambil mengharap kesembuhan dari Allah."

Lalu dokter meminta izin untuk memberikan obat bius. Namun lagi-lagi 'Urwah tidak mau. Beliau berkata, "Aku tidak ingin salah satu dari anggota badanku diambil tanpa rasa sakit sedikit pun. Aku justru berharap pahala yang besar dari rasa sakit itu."

Akhirnya dokter memanggil teman-temannya untuk memegangi 'Urwah saat melakukan amputasi. Namun, 'Urwah pun tak mau dipegangi. Ia sanggup mengendalikan dirinya. Ia mengatakan, "Jika tak ada cara lain maka aku akan shalat, dan silahkan para dokter mengamputasi kakiku ketika itu sebab aku akan disibukkan dengan shalatku."

Maka, saat 'Urwah sedang shalat, mulailah para dokter memotong betisnya dengan pisau. Berkat pertolongan Allah Ta'ala, 'Urwah tak merasakan sakit sedikit pun. Ia benar-benar sibuk dengan shalatnya sampai gesekan alat pemotong betis tidak ia rasakan. Masya Allah

Inilah kisah yang bisa kita ambil hikmahnya. Ketabahan yang luar biasa dan keteguhan untuk selalu menjauhi apa yang Allah Ta'ala haramkan.
Sudah sepatutnya kita mencontoh beliau. 

Wallahu'alam.

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)