Penulis: Ahmad Firdaus |
Membaca al-Qur’an adalah ibadah yang sangat mulia. Namun dalam kenyataannya, banyak orang membaca Al-Qur’an tanpa talaqqi (belajar langsung kepada guru). Bahkan, sebagian merasa cukup belajar sendiri dari mushaf atau aplikasi, sehingga kesalahan bacaan tidak pernah dikoreksi.
Yang lebih memprihatinkan, kesalahan itu dipertahankan bertahun-tahun karena tidak pernah disadari atau tidak mau diperlihatkan kepada orang lain.
Belajar Sendiri dan Enggan Dikoreksi
Sebagian orang merasa: “Yang penting bisa membaca”, “Tidak perlu belajar kepada guru”, atau “Malu kalau salah di depan ustadz”. Akibatnya, mereka membaca al-Qur’an dengan pola yang keliru sejak awal, lalu mengulanginya terus-menerus hingga menjadi kebiasaan bertahun-tahun yang sulit diperbaiki.
Ada yang Terbiasa Tanpa Ilmu Tajwid
Dalam kenyataan di lapangan, ada juga sebagian muballigh atau penceramah yang lancar berbicara dan kuat dalam retorika, tetapi bacaan al-Qur’annya belum sesuai kaidah tajwid. Karena lebih mengandalkan kemampuan berbicara dan kepercayaan diri, aspek ketepatan bacaan sering kurang diperhatikan.
Hal ini menjadi pengingat bahwa kefasihan berbicara tidak otomatis menunjukkan ketepatan dalam membaca al-Qur’an. Ilmu al-Qur’an tetap berdiri di atas kaidah, bukan sekadar gaya penyampaian.
Yang Terkenal pun Tetap Belajar
Perlu dipahami juga bahwa para ustadz dan qari yang dikenal luas sekalipun tetap menjaga tradisi talaqqi. Mereka tidak berhenti belajar kepada guru untuk memperbaiki bacaan.
Dalam ilmu al-Qur’an, tidak ada istilah “sudah cukup”, karena yang dijaga adalah kemurnian bacaan, bukan sekadar popularitas atau kemampuan ceramah.
Pentingnya Talaqqi dalam Menjaga Bacaan
Para ulama menegaskan bahwa al-Qur’an dijaga melalui sanad dan pengajaran langsung dari guru ke murid. Inilah metode talaqqi.
Imam az-Zuhri berkata, “Ilmu itu tidak diambil dari lembaran, tetapi dari lisan para ulama.” Artinya, bacaan al-Qur’an harus dikoreksi langsung agar sesuai dengan kaidah yang benar.
Bukan Harus Sempurna, Tapi Harus Benar
Islam tidak menuntut seseorang langsung sempurna sejak awal. Bahkan, orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an tetap mendapat pahala besar.
Namun yang dituntut adalah kesungguhan untuk memperbaiki bacaan, bukan membiarkan kesalahan tanpa koreksi.
Imam Ibn al-Jazari menegaskan pentingnya tajwid sebagai bentuk penjagaan terhadap Kalam Allah.
Nasihat Penting Belajar Al-Qur’an
Belajar al-Qur'an itu seharusnya dimulai dengan talaqqi kepada guru. Selain itu, tidak boleh malu untuk dikoreksi, tidak merasa cukup dengan bacaan sendiri, tidak hanya mengandalkan kelancaran atau retorika, terus memperbaiki bacaan, meskipun sudah lama belajar.
Ini semua karena yang berbahaya bukan sekadar salah membaca, tetapi merasa benar padahal ada kesalahan yang terus diulang.
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang harus dijaga kemurniannya dalam bacaan. Talaqqi bukan sekadar metode tambahan, tetapi jalan utama yang diwariskan para ulama.
Kemampuan berbicara atau popularitas tidak bisa menggantikan ketepatan bacaan. Karena itu, setiap orang—baik pemula maupun muballigh—tetap membutuhkan koreksi agar bacaan al-Qur’an sesuai dengan yang diturunkan.
“Ambillah al-Qur’an dari ahlinya, karena di situlah penjagaan wahyu berada.” ***
(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)
