Selasa, 12 Desember 2023

Sepuluh Strategi Manipulasi Media (1)

PenulisHanibal Wijayanta|

Media terbukti sangat efisien untuk membentuk opini publik. Gara-gara propaganda dan rekayasa opini, gerakan sosial bisa diciptakan namun bisa pula dihancurkan, perang bisa dibenarkan, kemarahan massal dapat dibentuk, apalagi didorong arus ideologi. Media telah menunjukkan fenomena nyata sebagai produsen realitas maupun realitas semu dalam jiwa secara kolektif. 


Sayang, masyarakat sering tak menyadari apa yang sedang terjadi. Masyarakat kadang juga tak memahami apa yang sedang dibidik dengan gempuran berbagai muatan media. Masyarakat juga tak mampu mendeteksi berbagai strategi yang paling umum tentang media sebagai alat psikososial yang berseliweran di tengah-tengah kehidupan mereka. 

Namun, pakar linguistik dari MIT dan kritikus terkemuka abad ini, Noam Chomsky, telah menyusun daftar sepuluh strategi umum yang paling efektif untuk memaksakan agenda tersembunyi dalam rangka memanipulasi opini warga lewat media. Dengan gamblang Chomsky mensintesis dan mengekspos praktik manipulasi lewat media yang begitu canggih. 

Jika ditilik lebih mendalam, semua strategi itu sama-sama efektif dan sama-sama efisien, meski dari sudut pandang tertentu terasa sangat merendahkan, sebab beberapa strategi itu mendorong pada kebodohan, mempromosikan rasa bersalah, mempromosikan gangguan, atau membangun masalah buatan, kemudian secara ajaib mereka memecahkan masalah buatan itu.

Strategi pertama disebut sebagai Strategi Gangguan. Strategi gangguan ini disebut Chomsky sebagai elemen utama dari kontrol sosial. Strategi ini sengaja dipakai untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu penting dan perubahan yang ditentukan oleh elit politik dan ekonomi. Caranya dengan membanjiri masyarakat dengan gangguan informasi yang tak signifikan. Strategi gangguan juga penting untuk mencegah minat publik untuk memahami berbagai bidang ilmu, terutama ekonomi, psikologi, neurobiologi dan cybernetics. 

Dalam buku Silent Weapons for Quiet War disebutkan berbagai metode yang diterapkan: “Media: Keep the adult public attention diverted away from the real social issues, and captivated by matters of no real importance; Schools: Keep the young public ignorant of, real mathematics, real economics, real law, real history; Entertainment: Keep the public entertainment below a sixth-grade level; Work: Keep the public busy, busy, busy, with no time to think; back on the farm with the other animals.” 

Buku Silent Weapons for Quiet War adalah sebuah manual rekayasa sosial tertanggal Mei 1979. Manual ini didedikasikan sebagai terbitan dalam rangka ulang tahun Perang Dunia Ketiga, yang biasa disebut sebagai Quiet War. Buku ini ditemukan pada 7 Juli 1986, dan kemudian dibocorkan oleh bekas petinggi intelejen Angkatan Laut Amerika Serikat Milton William Cooper. Buku ini menjadi buku yang paling kontroversial setelah The Protocols of The Learned Elder of Zion.

Dari penjelasan Chomsky maupun uraian buku Silent Weapons if Quiet War, kita dapat menyaksikan bahwa apa yang berseliweran di media kita adalah banjir informasi yang sebenarnya tidak terlalu penting amat. Cobalah tengok media kita, baca berita-berita yang ditulis dan ditayangkan, lihatlah talkshow-talkshow di televisi kita. Benar mereka menyinggung berbagai masalah, tapi rata-rata hanya berputar-putar di permukaan, menonjolkan dampak, memunculkan pro kontra ecek-ecek, tapi tak menyentuh akar masalah yang sebenarnya.

Lihatlah apa yang dipelajari anak-anak kita di sekolah. Apakah mereka mendapat pengajaran yang baik tentang matematika, pengetahuan alam, sejarah, informatika dan bahasa. Bukankah masyarakat saja diributkan soal ganti buku tiap naik kelas, kualitas buku ajar yang buruk, materi pelajaran yang ajaib-ajaib? Belum lagi mahalnya buku dan hilangnya mata pelajaran penting, sementara mereka dicekoki PR dan tugas-tugas yang kadang tak jelas maksudnya.

Tengok pula dunia entertainment kita. Betapa banyak tayangan hiburan yang melecehkan akal sehat; talkshow-talkshow dagelan yang memamerkan kebodohan orang; komedi-komedi porno, slapstick, dan sarkastik; gambar-gambar seronok dan gosip-gosip murahan berlabel infotainment, informasi selebritis, dan investigasi selebritis muncul di mana-mana. Anehnya, tayangan-tayangan below a sixth-grade level itu disiarkan berjam-jam, dengan alasan rating dan share tinggi serta slot iklannya laku dijual.

Rutinitas pekerjaan kaum buruh, karyawan, dan kaum menengah perkotaan di Jakarta dan lima kota besar Indonesia menggambarkan betapa sibuknya mereka. Meski strategi gangguan mungkin belum sempat diterapkan untuk membuat super sibuk, mereka sudah dibuat repot dengan kemacetan, transportasi massal yang tak memadai, dan lingkungan kerja yang tak kondusif. Akibatnya mereka sudah tak ada waktu lagi untuk berpikir serius di luar pekerjaan, atau kembali mengurus lingkungan sekitar. Di waktu senggang mereka mencoba rehat dengan olah raga, rekreasi dan entertainment.

Beberapa hal yang terjadi dalam masa kampanye pemilu 2024 ini juga jelas menunjukkan dipakainya metode gangguan ini. Contoh nyata adalah munculnya statement asam sulfat oleh salah satu kandidat, yang kemudian ditanggapi oleh pendukung dan bahkan tim sukses kandidat yang lain, sehingga tema asam sulfat itu dibahas panjang lebar, dikritik, dicemooh, dibuli dan dihajar habis.

Padahal sesungguhnya isu asam sulfat itu adalah isu yang sengaja dimunculkan, by design, dan dipakai untuk mendistraksi opini masyarakat. Brieffing yang diberikan memang asam sulfat, sehingga tidak ada kesan slip of tongue ataupun disengaja salah. Lihat saja ekspresi penuturnya saat mengatakan frasa asam sulfat itu.

Dengan cepat tema asam sulfat itu menggusur berbagai isu penting dari pembicaraan masyarakat. Sebagian besar masyarakat tidak membahas lagi soal politik dinasti, rekayasa Mahkamah Konstitusi, "pengkhianatan politik", dan "penjegalan demokrasi" yang selama beberapa Minggu mendominasi opini dan pembicaraan masyarakat.

Kemarin gimmick baru dimunculkan dengan angka 400 juta. Dalam pidato lengkap, sebenarnya si penutur menjelaskan tentang program yang dilaksanakan oleh 76 negara, dan konon telah menjangkau 400 juta siswa. Namun video itu dipotong di bagian depannya dan kemudian disebarkan ke berbagai platform. Maka potongan video itu dibahas di mana-mana dan viral, dengan bumbu bulian dan kecaman. Lalu siapa yang memotong video itu sehingga jadi misleading? Dia pasti orang yang faham trik-trik manipulasi media. (Bersambung)

(Penulis adalah wartawan senior)

Baca sambungan artikel ini di: