Selasa, 21 April 2026

Fatherless: Ayah Ada Namun Tiada

Penulis: Ainan Salsabila Salamah |

Mungkin banyak yang pernah dengar tentang fatherless hingga muncul pertanyaan-pertanyaan, atau bahkan kita sendiri yang mengalaminya. Tapi banyak orang yang mengalami tapi tidak tahu apa itu fatherless, kenapa fatherless itu bisa terjadi, dan lain sebagainya.

Oke, mari kita bahas secara sederhana.

Fatherless berasal dari bahasa Inggris yang artinya tanpa ayah atau tidak memiliki sosok figur ayah, entah karena meninggal dunia, perceraian, atau sebab lainnya. 

Fatherless menjadi salah satu masalah yang cukup serius di dunia, utamanya di Indonesia. Sebab, menurut BKKBN melalui pendataan keluarga tahun 2025 yang dirilis pada 26 November 2025, sebanyak 25,8% anak di Indonesia mengalami fatherless. 

Angka ini bukan sekedar statistik namun pengingat dan potret penting mengenai kualitas pola asuh dalam keluarga yang ternyata masih jauh dari baik.

Jadi, fatherless tidak hanya terjadi pada anak yang tidak punya ayah secara fisik (yatim dan perceraian), namun banyak juga terjadi pada anak yang memiliki keluarga lengkap namun tidak hadir secara emosional. 

Bahkan di zaman sekarang kata fatherless digunakan untuk menyindir seseorang yang tidak memiliki sopan santun dan terkesan nakal atau anak yang kurang didikan, bimbingan, dan perhatian.

Kenapa fatherless bisa terjadi?

Banyaknya kasus anak yang tidak merasakan sosok figur ayah atau merasa tidak ada keterikatan antara anak dan ayah tentunya tidak terjadi begitu saja. Ada pemicu atau sebab-sebab yang menjadikan hubungan ayah dan anak sekadarnya. Ayah hanya bertanya seperlunya, begitu pun anak yang bicara seadanya.

Beberapa faktor terjadinya fatherless antara lain:

1. Perceraian

Ketika orang tua berpisah, anak akan kebingungan terhadap kehidupan dia ke depan. Apalagi ketika hak asuh anak diambil oleh ibu, hingga interaksi antara anak dan ayah akan semakin renggang dan kemungkinan seiring berjalannya waktu akan hilang. 

Dari sinilah anak akan kehilangan figur ayah dan muncul kebingungan dalam kehidupannya.

2. Ayah bekerja jauh

Pekerjaan adalah suatu hal yang sangat penting bagi seorang ayah karena bagaimana pun seorang ayah adalah tulang punggung dan harus menghidupi keluarga. Karena itu, tidak jarang seorang ayah memilih bekerja jauh dari istri dan anaknya demi memenuhi kebutuhan keluarga. 

Namun apabila kehadiran ayah tidak ada dalam kehidupan anak sehari-hari maka anak akan merasa tidak punya sosok figur ayah yang diharapkan. Sebab, yang anak butuhkan adalah kasih sayang kedua belah pihak, ayah dan ibu. Bukan hanya dari ibu saja.

3. Kematian ayah

Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan kita juga tidak akan tahu kapan dan di mana waktunya. Ketika seorang ayah meninggal maka anak akan merasa kehilangan dan nantinya sosok figur ayah yang selama ini dirasakannya hilang.

4. Kurangnya kesiapan menjadi ayah

Menjadi ayah adalah tugas yang berat karena kewajibannya bukan hanya sekedar memberi nafkah, namun juga memenuhi kebutuhan emosionalnya, seperti kasih sayang, perhatian, pendidikan dan bimbingan.

5. Faktor ekonomi

Ekonomi merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam keluarga. Karena banyak kasus perceraian karena faktor ekonomi. Banyak kasus kriminal karena kemiskinan. Banyak kasus kematian karena masalah ekonomi. 

Karena itu ekonomi adalah hal yang sangat penting, dan banyak orang berlomba-lomba mencari uang hingga lupa waktu dan kesehatannya sendiri.

Apabila kondisi ekonomi suatu keluarga lemah, besar kemungkinan orang tua akan berusaha mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya hingga melupakan hal-hal penting lainnya. Salah satunya yaitu anak. 

Ketika orang tua hanya fokus mencarti uang, banyak anak yang biasanya terlantar, tidak dipedulikan dan bahkan kadang kehadirannya dianggap tidak ada. 

Tetapi Ketika anak meminta haknya untuk diberi kasih sayang, orang tua malah berteriak menyuruh untuk bersyukur karena orang tua sudah banting tulang tidak tahu waktu demi memenuhi kebutuhannya. Padahal bukan itu yang anak inginkan. Anak hanya ingin haknya dalam kasih sayang, perhatian, dan pendidikannnya dipenuhi.

Dampak fatherless itu cukup besar, namun tidak selalu mengahancurkan. Semua itu bergantung pada dukungan ibu, kakak, dan keluarga lainnya, lingkungan, dan bagaimana seseorang menjalaninya. 

Tidak sedikit anak yang mengalami fatherless bisa berdamai dengan masa lalunya dan akhirnya bisa keluar dari dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari fatherless itu sendiri.

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)