Penulis: Rahma Rahayu |
SUKABUMI — Perjalanan kembali menuju Jakarta pada Senin (1/6/2026) setelah masa perpulangan asrama Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir berubah menjadi drama yang menegangkan. Dua orang mahasiswi kampus tersebut menjadi saksi sekaligus korban saat bus jurusan Cianjur - Kampung Rambutan yang mereka tumpangi mengalami kendala mesin di ruas tol Sukabumi, Jawa Barat, diduga akibat kelebihan muatan.
Keputusan sopir mengambil rute alternatif via Sukabumi untuk menghindari kemacetan di jalur Puncak, Bogor, awalnya berjalan kondusif. Namun, situasi berubah ketika bus mendekati gerbang tol. Bus berhenti untuk mengangkut belasan penumpang operan dari bus lain. Dalam sekejap, bus menjadi sangat sesak. Koridor tengah dipenuhi penumpang yang berdiri hingga muatan bus melampaui batas maksimal.
Terjebak di Kabin Pengap
Ketegangan memuncak saat bus mulai melaju di jalan tol membawa beban yang terlampau berat. Tak lama kemudian, terdengar suara percikan keras dari bagian depan, disusul kepulan asap di dalam bus.
Penumpang panik, berteriak, dan saling berebut untuk keluar terlebih dahulu melalui pintu keluar. Di tengah kepanikan massal tersebut, kedua mahasiswi STID Mohammad Natsir sempat terjebak di dalam bus yang mulai pengap dan panas.
"Didalam tadi ngeri banget. Semua orang rebutan turun bus ditambah tubuh gemetar karena takut bus terbakar, kami sempat terjebak didalam sana." ujar Hasna, salah satu korban saat diwawancarai di lokasi kejadian setelah berhasil menyelamatkan diri ke bahu jalan tol.
Di sela-sela kepulan asap yang masih keluar dari kap mesin, para penumpang meluapkan kekecewaan mereka langsung kepada sopir dan kru bus.
Menurut kesaksian dua mahasiswi STID Mohammad Natsir, Rahma dan Sarah, suasana di lokasi langsung memanas karena banyak penumpang yang protes keras akibat bus yang dipaksa melebihi muatan.
Rahma menceritakan, ada penumpang yang berteriak protes, "Kenapa sopirnya masih ngangkut penumpang, padahal sudah melebihi muatan juga?"
Kalimat itu kemudian disahut oleh penumpang lain dengan nada getir yang didengar oleh Sarah, "Setiap jam ada rezekinya, mereka takut enggak kebagian rezeki kalau enggak ngambil penumpang tadi.”
Selang Radiator yang Pecah
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, bus tersebut tampak dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan maksimalnya hingga nyaris "jebol". Ini memicu ledakan kecil dan kepulan asap.
Ledakan kecil tersebut berasal dari selang radiator yang pecah karena tidak mampu menahan suhu panas ekstrem akibat beban muatan berlebih. Sebagai langkah darurat, sopir bus memanfaatkan selang cadangan yang dibawa di dalam bagasi. Kru bus langsung mengikat kembali saluran tersebut, agar air radiator tidak lagi bocor dan bus bisa melanjutkan perjalanan secara perlahan.
Bagi kedua mahasiswi STID Mohammad Natsir, insiden ini menjadi pengalaman traumatis pertama mereka selama menggunakan transportasi umum di jalan raya. Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan pentingnya kepatuhan terhadap batas muatan demi keselamatan nyawa penumpang. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)

