Penulis: Almasah Salsabila Munir |
Belakangan ini, ruang digital diramaikan oleh beredarnya video yang memperlihatkan tindakan mesra sesama jenis di lingkungan kampus. Peristiwa itu mengundang beragam respon dari masyarakat. Ada yang memandangnya sebagai urusan pribadi, ada pula yang menyorotnya dari sudut pandang moral dan agama.
Terlepas dari perdebatan yang muncul, fenomena ini menjadi pengingat bahwa hubungan sesama jenis semakin tampak dalam kehidupan sosial saat ini.
Cinta merupakan anugerah yang ditanamkan Allah dalam diri manusia. Ia hadir tanpa diundang, tumbuh tanpa diminta, dan sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun, dalam Islam, cinta tidak hanya dipahami sebagai perasaan, melainkan juga sebagai sesuatu yang harus diarahkan sesuai dengan ketentuan syari’at. Sebab, tidak setiap rasa yang tumbuh di dalam hati dapat diwujudkan menjadi tindakan yang dibenarkan.
Islam memandang bahwa hubungan romantis yang sah adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang terikat dalam pernikahan. Ketentuan tersebut merupakan bagian dari fitrah yang telah Allah tetapkan bagi manusia.
Oleh karena itu, hubungan sesama jenis tidak memperoleh keabsahan dalam ajaran Islam. Pandangan ini ditegaskan dalam kisah kaum Nabi Luth ‘Alahissalam yang diabadikan dalam al-Qur'an,
اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ
“Sesungguhnya kamu benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan, bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (Al-A'raf: 81)
Tidak semua yang diinginkan hati dapat diikuti, sebagaimana tidak semua jalan yang tampak indah akan berakhir pada kebaikan. Kehidupan seorang muslim pada hakikatnya adalah perjuangan untuk menempatkan ketaatan di atas keinginan pribadi.
Atas dasar itulah hubungan sesama jenis dapat disebut sebagai kisah cinta yang tak akan pernah nyata. Kisah yang tak akan benar-benar bisa berjalan dan rasa yang sebenarnya tidak ada. Ia menjadi kisah yang berjalan di antara harapan dan larangan, antara hasrat dan ketaatan.
Kendati demikian, Islam selalu mengajarkan untuk setiap umatnya agar senantiasa bertaubat mencari ridha Allah Kembali. Karena Allah selalu membukakan pintu maaf yang seluas-luasnya bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya, mengingkari kemaksiatannya, menjauhi, bahkan menghapus perasaan-perasaan yang tak wajar tersebut. Dengan itu, jalan untuk kembali kepada Allah akan semakin mudah.
Pada akhirnya, cinta yang sejati bukanlah cinta yang sekadar mengikuti apa yang diinginkan hati, melainkan cinta yang mampu membawa seseorang menuju keridaan Ilahi. Sebab, ada kalanya sesuatu yang sangat diinginkan justru harus dilepaskan demi menjaga ketaatan.
Dan, dalam pandangan Islam, tidak ada kehilangan yang sia-sia ketika seseorang memilih Allah di atas segala yang ia cintai di dunia. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)