Kamis, 14 Mei 2026

Seni Mendengar, Bukan Menghakimi

Penulis: Asy Syifa |

​Pernah nggak sih kamu lagi cerita serius, tapi lawan bicaramu malah main HP atau langsung memotong pembicaraan dengan nasihat yang nggak kamu minta? Rasanya pasti kayak nggak dihargai, kan? 

Nah, belakangan ini aku lagi belajar tentang bagaiman cara Rasulullah SAW berinteraksi dengan para sahabatnya. Ternyata, rahasia mengapa  para sahabat sayang banget sama beliau bukan cuma karena beliau seorang Nabi, tapi karena beliau adalah pendengar yang luar biasa.

Memanusiakan Lewat Mendengar

Seringkali kita kalau ngobrol sama orang, pikiran kita sudah sibuk menyusun jawaban atau penghakiman sebelum orang itu selesai bicara. Tapi Rasulullah SAW nggak begitu. Beliau kalau mendengarkan sahabat, badannya benar-benar menghadap penuh ke orang tersebut. Beliau nggak pernah memotong pembicaraan, bahkan kalau yang dibicarakan itu hal yang beliau sudah tahu.

Belajar dari kasus "Kesalahan" Sahabat

​Ada satu pelajaran yang ngena banget. Pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi dan minta izin untuk berzina. Bayangkan, di depan pemimpin besar, dia minta izin buat hal yang jelas-jelas dilarang! Kalau kita mungkin sudah langsung dibentak atau diusir, kan?
Tapi apa yang Rasulullah lakukan? Beliau tidak langsung menghakimi. Beliau justru memanggil pemuda itu mendekat, mendengarkan kegelisahannya, lalu mengajak dialog dengan sangat tenang. 

"Apakah kamu suka jika hal itu terjadi pada ibumu? Pada anak perempuanmu?"

​Nabi SAW menggunakan logika dan perasaan, bukan amarah. Hasilnya? Pemuda itu pulang dengan hati yang mantap untuk berubah. Ini bukti kalau kelembutan bisa mengubah hati yang paling keras sekalipun.

​Dalil tentang Menjaga Perasaan

​Rasulullah SAW bersabda, ​"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

​Dari hadis ini kita bisa belajar kalau belum bisa kasih solusi yang menenangkan, mending kita diam dan jadi pendengar yang baik. Diamnya kita saat mendengarkan itu sebenarnya adalah bentuk sedekah perhatian buat orang lain.

​Bukan Sekadar Tahu, Tapi Mengerti

​Kadang kita merasa paling ahli (apalagi kalau sudah baca satu-dua buku), terus jadi gampang menghakimi pilihan hidup teman atau sahabat kita. Padahal, Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)..." (Al-Hujurat: 11)

​Ayat ini pengingat keras buat kita semua bahwa kita nggak pernah tahu perjuangan apa yang sedang dilewati sahabat kita. Tugas kita adalah menjadi "pendengar yang aman", bukan "hakim yang kejam". ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)