Penulis: Dr. Dudung A Abdullah |
Sepekan lalu, tepatnya pada rabu (29/04/2026), penulis berkesempatan menjadi pemateri dalam Workshop Nasional Perkaderan yang digagas oleh Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah. Acara yang diikuti utusan Dewan Murabby Wilayah (DMW) dan Departemen Perkaderan DPW dari seluruh Indonesia dilaksanakan selama lima hari.
![]() |
| Salah satu halaqoh di Hidayatullah |
Dalam sesi brainstorming dengan peserta, muncul kekhawatiran gerakan dakwah yang dibangun hanyut pada dua godaan besar, kuantitas dan pragmatisme. Pertama, jebakan kuantitas. Dimana pertumbuhan sering dibanggakan dengan angka-angka, berapa banyak kader, berapa luas ekspansi, berapa cepat perkembangan dan lain sebagainya. Sesuatu yang bisa terlihat besar, tetapi rapuh dari dalam. Bahkan ketika angka-angka tersebut tanpa diiringi kualitas memadai, bisa saja hanya ilusi kekuatan. Gerakan bisa, Kader banyak, tetapi mudah goyah.
Kedua, godaan pragmatisme. Ukuran keberhasilan bergeser dari nilai ke hasil instan. Yang penting terlihat bergerak, yang penting ada capaian, yang penting diakui. Idealisme dianggap beban, bahkan kadang dicurigai sebagai penghambat. Padahal, tanpa idealisme, gerakan hanya akan menjadi mesin tanpa arahbergerak cepat, tetapi tidak tahu ke mana.
Jika keduanya berkolaborasi dalam jangka waktu lama, tanpa diringi dengan kualitas pembinaan, maka akan lahir kader dengan kondisi malnutrisi, stunting idiologi. Kondisi ketika kader kehilangan kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang diperjuangkannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melahirkan krisis identitas, bahkan pada organisasi yang secara struktur terlihat besar. Jelas ini sangat berbahaya, karena secara perlahan akan menggerus arah, komitmen, dan ketahanan sebuah gerakan.
Pertanyaannya menggelitik muncul, mengapa stunting ideologi bisa terjadi?. Menurut hemat penulis setidakmya ada empat hal yang menjadi pemicu, antara lain:
Pertama, dangkalnya proses kaderisasi. Tidak sedikit proses pembinaan yang lebih menekankan formalitas daripada substansi. Kader hadir dalam forum, tetapi tidak benar-benar mengalami proses pembentukan. Materi disampaikan, namun proses internalisasi nilai tidak terjadi.
Kedua, orientasi pragmatis yang semakin menguat. Pada saat ukuran keberhasilan bergeser hanya pada capaian-capaian praktis, seperti jabatan, program, atau angka-angka, maka aspek ideologis sering kali terpinggirkan. Kader sibuk bergerak dalam jabatan formal, tetapi kehilangan arah. Kader bergabung dalam gerakan karena adanya kesempatan lowongan kerja di amal usaha. Kader konsentrasi pada orientasi jabatan, sementara penanaman nilai tidak dilakukan, maka pada kondisi ini harakah hanya sebatas ikatan korporat.
Ketiga, lemahnya budaya literasi dan berpikir kritis. Ideologi tidak akan tumbuh dalam ruang yang miskin literasi. Kader yang tidak terbiasa membaca dan mendalami gagasan akan cenderung memahami nilai secara dangkal dan hitam-putih.
Keempat, minimnya keteladanan murabby. Ideologi tidak cukup diajarkan, ia harus dicontohkan. Ketika murabby tidak menghadirkan integritas antara ucapan dan tindakan, kader akan kehilangan rujukan hidup. Di titik ini, nilai yang diharapkan tumbuh menjadi panduan langkah, hanya menjadi benih yang tergeletak dalam meja wacana
Pada saat keempatnya berpadu, disinilah stunting ideologi menemukan ruang hidupnya, yang berimbas pada kondisi kader semakin kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang diperjuangkannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melahirkan krisis identitas dalam tubuh organisasi.
Bagi lembaga kaderisasi seperti Hidayatullah, persoalan ini seharusnya menjadi perhatian serius. Sebab kekuatan organisasi bukan semata pada jumlah anggota, melainkan pada kualitas ideologis kadernya. Tanpa fondasi ideologi yang kokoh, pertumbuhan organisasi justru berisiko menjadi rapuh, besar secara struktur tetapi lemah dalam substansi.
Di tengah tantangan tersebut, halaqoh kader menemukan relevansinya. Halaqoh tampil bukan sekadar forum pengajian rutin, melainkan instrumen strategis pembinaan yang membentuk cara berpikir, sikap, dan orientasi hidup kader. Di dalamnya, nilai-nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan melalui interaksi, keteladanan, dan proses refleksi bersama.
Namun, kita juga perlu jujur melihat kenyataan. Tidak semua halaqoh berjalan efektif. Dalam beberapa kasus, halaqoh terjebak menjadi sekedar rutinitas, sekadar menggugurkan kewajiban. Materi disampaikan, tetapi tidak menyentuh persoalan riil kader. Diskusi berlangsung, tetapi tidak menghasilkan perubahan berarti. Jika ini terus dibiarkan, halaqoh justru kehilangan daya transformasinya.
Oleh karenanya, revitalisasi halaqoh menjadi keharusan, karena sejatinya ia menjadi ruang pemulihan sekaligus penguatan. Murabby harus dipersiapkan dengan baik, tidak hanya secara keilmuan, tetapi juga keteladanan. Kurikulum pembinaan perlu dirancang secara sistematis dan kontekstual, menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Evaluasi juga harus menjadi bagian penting, agar proses pembinaan tidak berjalan di tempat.
Tantangan lainnya, halaqoh hari ini berhadapan langsung dengan realitas baru, kemajuan teknologi dan perubahan karakter generasi. Lalu pertanyaanya, seperti apa halaqoh yang relevan hari ini? Halaqoh yang bisa jadi magnet bagi kader untuk mendatanginya dengan rindu.
Untuk menjawab kondisi ini, hemat penulis, Halaqoh memberikan solusi, bahwa : Pertama, halaqoh mampu mengelola ketegangan antara kuantitas dan kualitas. Ekspansi kader memang penting, tetapi pertumbuhan tanpa kualitas hanya akan melahirkan kerentanan baru. Dalam konteks ini, kualitas bukan lawan dari kuantitas, melainkan fondasi bagi pertumbuhan kuantitas yang sehat.
Kedua, halaqoh harus tegas dalam menavigasi tarik-menarik antara pragmatisme dan idealisme. Realitas memang menuntut hasil yang konkret, tetapi gerakan tanpa idealisme akan kehilangan arah. Sebaliknya, idealisme tanpa pijakan realitas akan menjadi utopis. Halaqoh harus menjadi ruang sintesis, ia bisa menanamkan nilai yang kuat sekaligus melatih kader membaca realitas dan bertindak secara strategis. Kader tidak hanya diajarkan apa yang benar, tetapi juga bagaimana mewujudkannya.
Ketiga, halaqoh perlu menumbuhkan daya tahan intelektual dan spiritual. Di era banjir informasi, kader tidak cukup hanya diberi jawaban, tetapi harus dilatih cara berpikir. Diskusi harus lebih hidup, literasi harus ditingkatkan, dan perenungan harus menjadi bagian dari proses. Dengan begitu, kader tidak mudah goyah oleh narasi yang datang silih berganti.
Keempat, halaqoh harus bertransformasi tanpa kehilangan ruh. Teknologi bukan ancaman, melainkan alat. Platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pembinaanmelalui kelas daring, grup diskusi, atau materi multimedia. Namun, yang tidak boleh hilang adalah kedalaman interaksi. Halaqoh tidak cukup hanya menjadi konten, tetapi harus tetap menjadi ruang pembentukan, di mana di dalamnya ada dialog, kedekatan, dan keteladanan
Jika halaqoh mampu menjawab tantangan-tantangan ini, maka ia tidak hanya relevan, tetapi juga menjadi solusi utama dalam mengatasi stunting ideologi. Ia akan melahirkan kader yang tidak sekadar banyak, tetapi berkualitas; tidak sekadar bergerak, tetapi berarah; tidak sekadar realistis, tetapi juga berprinsip.
Pada akhirnya, masa depan sebuah gerakan sangat ditentukan oleh kualitas kadernya hari ini. Jika kita ingin membangun peradaban yang kuat, maka memastikan tidak adanya stunting ideologi dalam tubuh kader adalah langkah yang tidak bisa ditawar. Dan halaqoh, sejauh ini, tetap menjadi salah satu jalan terbaik untuk mewujudkannya.
Wallahu Alam
(Penulis adalah Ketua DPP Hidayatullah Bidang Organisasi)
